Bitcoin Jatuh di Bawah US$65.000, Ketegangan AS-Iran dan Prospek Suku Bunga Fed Tekan Pasar
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin kembali tertekan dan sempat turun di bawah level psikologis US$65.000 pada perdagangan Jumat (24/7/2026) dini hari waktu Asia, meski beberapa saat kemudian bangkit dan paginya berada di atas US$65.000. Penurunan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu aksi jual di pasar aset berisiko global.
Berdasarkan data TradingView, Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah tiga hari di US$64.799 di bursa Bitstamp. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan penurunan pasar saham Amerika Serikat, lonjakan harga minyak mentah hingga menembus US$ 100 per barel, serta meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Tekanan terhadap pasar meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial. Sentimen tersebut mendorong indeks S&P 500 turun 1,2% dan Nasdaq melemah 2,2%.
Kenaikan harga energi juga memicu kembali kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat.
Baca Juga
Harga Bitcoin Diprediksi Sentuh Titik Terendah pada 4 Oktober 2026, Bisa Turun ke US$ 50.000
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya meningkat menjadi hampir 40%, naik signifikan dari sekitar 12% sepekan sebelumnya.
Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 18 bulan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangi likuiditas di pasar dan menekan aset berisiko seperti kripto.
Di kalangan pelaku pasar, prospek pergerakan Bitcoin masih memunculkan pandangan yang beragam. Sebagian analis memperkirakan pelemahan dapat berlanjut apabila harga bertahan di bawah US$65.000. Namun, sebagian lainnya menilai tren kenaikan masih berpeluang berlanjut apabila Bitcoin mampu mempertahankan level dukungan utama.
Melansir Crypto Breaking, Jumat (24/7/2026) analis kripto Michaël van de Poppe menilai area US$64.073, yang berdekatan dengan simple moving average (SMA) 21 minggu, menjadi level support penting. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan masih terbuka.
Baca Juga
Faktor Ini Membuat Standard Chartered Pertahankan Target Harga Bitcoin US$ 100.000 pada Akhir 2026
Ia juga menyebut level US$68.000 sebagai resistensi utama yang harus ditembus. Jika berhasil melewati area tersebut, Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$73.000.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta pergerakan imbal hasil obligasi AS sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.
