Prospek Saham ASII dan AUTO Masih Cerah, Pemulihan Industri Otomotif Jadi Katalis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) masih menjadi pilihan utama saham sektor otomotif didukung fundamental yang solid dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Kedua perusahaan juga menunjukkan momentum tren pemulihan penjualan mobil nasional sepanjang semester I.
MNC Sekuritas dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa penjualan mobil wholesales mencapai 436.564 unit pada semester I-2026, meningkat 15,9% secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 376.707 unit. Bahkan, penjualan wholesales Juni 2026 naik menjadi 77.550 unit, atau tumbuh 12% secara bulanan (month to month/MoM) .
Baca Juga
Astra (ASII) Siapkan Buyback Saham Rp 8 Triliun, Tujuan Ini Diungkap
Daihatsu mencetak kenaikan sebanyak 14,2% YoY menjadi 73.545 unit dan Suzuki yang melonjak 33,6% YoY menjadi 36.319 unit. Di sisi lain, BYD membukukan pertumbuhan tertinggi di antara merek dengan volume penjualan signifikan, yakni 65% YoY menjadi 23.257 unit. Sementara itu, Toyota masih mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar dengan penjualan 133.928 unit atau naik 8,1% YoY.
Analis MNCS Sekuritas Muhamad Rudy Setiawan mengatakan, pertumbuhan industri kini didorong oleh ekspansi merek-merek asal China, sementara sejumlah produsen otomotif lama mulai menunjukkan perlambatan momentum menjelang semester II-2026.
Prospek kuat saham otomotif juga didukung rencana penyelenggaraan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026. Kegiatan ini diharapkan menjadi katalis positif bagi penjualan kendaraan pada kuartal III-2026. “Pameran otomotif tersebut akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan menghadirkan lebih dari 65 merek otomotif, termasuk 10 peserta baru dari berbagai negara,” tulisnya.
Baca Juga
IHSG masih Trend Bullish, Saham AADI hingga BUKA Dijagokan Hari Ini
MNC Sekuritas juga menyoroti ketidakpastian paket insentif kendaraan listrik yang semula diharapkan berlaku mulai Juli 2026. Skema yang diusulkan mencakup insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40-100% untuk mobil listrik berbasis baterai, dengan besaran insentif disesuaikan kandungan nikel baterai, serta subsidi Rp 5 juta untuk setiap sepeda motor listrik.
“Keterlambatan pengumuman kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi permintaan kendaraan menjelang GIIAS 2026. Namun, pameran otomotif tetap diyakini menjadi katalis penjualan karena insentif bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan konsumen,” tulisnya.
Kepastian kebijakan dan konsistensi regulasi, menurut MNC Sekuritas, justru akan lebih penting dalam menjaga kepercayaan investasi, mempercepat lokalisasi rantai pasok, serta mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Prospek ASII dan AUTO
Di tengah prospek pemulihan industri, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.000 per saham dan AUTO dengan target harga Rp 3.200 per saham.
Baca Juga
“Kedua emiten memiliki prospek kinerja keuangan yang tetap kuat berkat laba yang solid, arus kas yang resilien, serta eksposur terhadap pertumbuhan populasi kendaraan di Indonesia yang bertambah sekitar 10 juta unit dalam satu dekade terakhir,” tulisnya.
Meski demikian, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi neutral untuk sektor otomotif secara keseluruhan. Hal itu didasarkan pada masih terbatasnya daya beli masyarakat, kenaikan biaya bahan baku akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya harga plastik, serta tren kenaikan suku bunga setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin pada Juni 2026.
