Bitcoin Masih Jadi Pilihan Investasi Jangka Panjang?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin dinilai masih memiliki prospek jangka panjang yang positif meski saat ini masih bergerak di bawah rekor harga tertingginya. Sejumlah analis menilai fundamental aset kripto terbesar di dunia tersebut tetap kuat, didukung oleh kelangkaan pasokan, efek jaringan yang terus berkembang, serta rekam jejak pemulihan setelah setiap siklus penurunan.
Per 13 Juli 2026 hari ini, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.000 atau sekitar 50% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Oktober tahun lalu. Kondisi tersebut terjadi di tengah berlanjutnya tekanan di pasar aset kripto, sementara pasar saham global masih bergerak mendekati level tertingginya.
Analis menilai koreksi harga saat ini tidak mengubah prospek jangka panjang Bitcoin. Sebagai aset kripto pertama yang diperkenalkan melalui white paper pada 2008, Bitcoin masih menjadi aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar dan menguasai sekitar 58% dari total kapitalisasi pasar kripto global.
Baca Juga
Bitcoin Berpeluang Capai Kapitalisasi US$ 10 Triliun, Regulasi AS Jadi Katalis
Melansir The Motley Fool, Senin (13/7/2026) selain dominasi pasar, aktivitas jaringan Bitcoin juga terus menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang 2025, nilai transaksi yang diproses melalui blockchain Bitcoin mencapai sekitar US$3,6 triliun, mencerminkan tingginya likuiditas dan penggunaan jaringan.
Di sisi lain, karakteristik pasokan Bitcoin yang terbatas menjadi salah satu faktor utama yang dinilai mendukung nilainya dalam jangka panjang. Total pasokan Bitcoin dibatasi hanya 21 juta koin, berbeda dengan mata uang fiat yang pasokannya dapat terus bertambah melalui kebijakan moneter bank sentral.
Analis juga menyoroti efek jaringan (network effect) yang terus menguat seiring bertambahnya jumlah pengguna, penambang, pengembang, hingga perusahaan yang membangun berbagai produk dan layanan berbasis Bitcoin. Kondisi tersebut dinilai semakin memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset digital utama.
Baca Juga
Institusi Makin Agresif, Morgan Stanley Tambah Bitcoin US$ 13,2 Juta
Secara historis, Bitcoin juga telah beberapa kali mengalami koreksi tajam sebelum kembali mencetak rekor harga baru. Dalam satu dekade terakhir, harga Bitcoin tercatat beberapa kali mengalami penurunan lebih dari 50%, termasuk koreksi sekitar 74% dari puncak pada November 2021 hingga titik terendah pada 2022.
Meski tidak ada kepastian mengenai waktu pemulihan harga, pola historis tersebut membuat sebagian pelaku pasar tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Bitcoin, terutama bagi investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang dan mampu menghadapi volatilitas pasar.
