Boy Thohir dan Anindya Bakrie Yakin IHSG Tembus 9.000, Ekonom Ungkap Tiga Syaratnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Optimisme Wakil Presiden Komisaris PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Boy Thohir dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie yang meyakini indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat kembali menembus level 9.000 mendapat respons positif dari pelaku pasar. Ada tiga syarat untuk mencapai prediksi tersebut.
Kepala Ekonom PT Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, target IHSG menembus level 9.000 merupakan proyeksi yang realistis. Meski demikian, ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi agar target tersebut dapat terwujud.
"Saya sependapat dengan optimisme yang disampaikan Pak Boy Thohir dan Pak Anindya Bakrie. IHSG di level 9.000 bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan menurut saya, target tersebut sangat mungkin dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan, selama terdapat konsistensi kebijakan ekonomi dan reformasi struktural yang berkelanjutan," kata Fakhrul kepada media Sabtu, (11/7/2026).
Menurut Fakhrul, terdapat tiga prasyarat utama agar pasar modal Indonesia mampu memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Pertama, pemerintah perlu terus memperkuat kebijakan yang pro-bisnis atau pro-dunia usaha. Dunia usaha merupakan mesin utama penciptaan lapangan kerja, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kebijakan yang memberikan kepastian usaha, mendorong investasi, serta memperkuat iklim berusaha akan menjadi fondasi penting bagi peningkatan profitabilitas perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.
"Kita butuh lebih banyak World Class Company ada di Bursa Efek Indonesia, dan itu hanya bisa dicapai dengan kebijakan ekonomi yang singkron dengan pengembangan dunia usaha," ujar Fakhrul.
Baca Juga
Boy Thohir Masih Pede IHSG Tembus 9.000 di Akhir 2026, Ini Alasannya
Menurutnya, pemerintah dan sektor swasta harus berjalan beriringan. “Ketika dunia usaha berkembang, investasi meningkat, lapangan kerja tercipta, daya beli masyarakat membaik, dan pada akhirnya fundamental perusahaan yang menjadi penghuni pasar modal juga akan semakin kuat,” terang Fakrul.
Kedua, Indonesia perlu terus memperkuat reputasi sektor keuangan, khususnya pasar modal. Fakhrul menilai peningkatan transparansi, tata kelola perusahaan (governance), perlindungan investor, serta respons cepat terhadap berbagai masukan pelaku pasar merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menarik kembali minat investor domestik maupun asing.
"Perbaikan governance harus menjadi prioritas. Isu-isu yang menjadi perhatian investor global, termasuk berbagai catatan mengenai transparansi pasar seperti yang pernah disampaikan MSCI, perlu diselesaikan secara tuntas. Pada saat yang sama, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter juga harus tetap terjaga agar menciptakan stabilitas makroekonomi yang menjadi fondasi utama pasar keuangan,” tutur dia.
Fakhrul bilang, kepercayaan investor merupakan aset yang dibangun melalui konsistensi kebijakan dalam jangka panjang, bukan hanya oleh pergerakan indeks dalam jangka pendek.
Ketiga, transformasi struktural ekonomi harus terus dilanjutkan. Fakhrul menilai agenda hilirisasi industri, percepatan industrialisasi nasional, penguatan produktivitas, serta peningkatan kualitas jaring pengaman sosial merupakan investasi jangka panjang yang akan meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus memperkuat prospek pertumbuhan laba perusahaan.
"Transformasi ekonomi tidak boleh berhenti. Hilirisasi, industrialisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan APBN, hingga penguatan perlindungan sosial merupakan bagian dari fondasi menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Semakin kuat fondasi ekonomi Indonesia, semakin besar pula peluang pasar modal mencapai valuasi yang lebih tinggi,” bebernya
Dan semua kebijakan ini harus dikomunikasikan dengan baik kepada pasar, karena keberhasilan pasar modal adalah kombinasi dari kinerja ekonomi yang ciamik, serta persepsi yang baik, ujar Fakhrul.
Ia menambahkan, pencapaian IHSG di atas level 9.000 bukan semata-mata mengenai angka indeks, melainkan merupakan cerminan keberhasilan pembangunan ekonomi nasional secara menyeluruh.
“Ketika suatu hari IHSG kembali mencetak rekor tertinggi baru, itu bukan hanya kemenangan pasar modal. Itu adalah kemenangan Bangsa Indonesia. Rakyat semakin sejahtera, portofolio masyarakat menghijau, dunia usaha berkembang, lapangan kerja bertambah, dan Indonesia menjadi semakin kuat. Pada akhirnya, pasar modal yang sehat adalah refleksi dari ekonomi yang sehat,” tandas Fakhrul.
