Dialog Penyelamatan IHSG di BEI Dihadiri Konglomerat, dari Boy Thohir Hingga Anindya Bakrie
JAKARTA, investortrust.id – Dialog penyelamatan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihadiri sejumlah konglomerat dan pengusaha Indonesia, antara lain Boy Thohir, Anindya Novyan Bakrie, Franky Oesman Widjaja, Arsjad Rasyid, hingga Agus Salim Pangestu.
Kemarin, BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak dialog para pelaku pasar, guna mencari solusi bersama untuk meningkatkan gairah investasi dalam negeri. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI cetak penurunan dalam, hingga 7,83% dalam sepekan sebelumnya.
Direksi bursa turut mengakui bahwa penurunan indeks juga disebabkan gejolak ekonomi global, di tengah ketidakpastian keputusan Trump dalam menentukan tarif dagang bagi negara lain.
Menurut Direktur Utama Alamtri Resources Indonesia Garibaldi Thohir, saat ini banyak fundamental perusahaan dalam negeri yang masih bagus namun memiliki value rendah. “It’s time to buy,” seru pria yang kerap disapa Boy Thohir itu.
Baca Juga
Dia juga menegaskan bahwa penurunan indeks, banyak dipengaruhi kebijakan perang dagang oleh Trump. Boy mengingatkan bahwa presiden terpilih Amerika Serikat itu merupakan pembuat kesepakatan (deal maker) sehingga seharusnya investor tidak khawatir terhadap harga saham.
Sebab, ketika Trump berhasil mendapat kesepakatan dengan negara mitra dagangnya maka pasar akan kembali normal, bahkan bertumbuh, dan punya prospek cerah dengan fundamental bisnis yang kuat.
Sedangkan Direktur Utama Bakrie & Brothers Anindya Novyan Bakrie mengaku, mendukung keputusan bursa dan OJK untuk menunda penerapan short selling dan mengkaji regulasi untuk buyback tanpa RUPS.
“Saya menyambut baik ajakan dialog ini untuk mencari cara meningkatkan sentimen pasar agar tetap positif. Ini menunjukkan instant reaction karena sesuatu yang menurut kita berlebihan,” ujar Anindya.
Respons berlebihan dimaksud, terbukti pada penurunan IHSG dengan berbagai isu negatif. Padahal kondisi sebenarnya dari fundamental banyak perusahaan terbuka Indonesia, masih kuat dan bertumbuh.
Anindya juga mengingatkan bahwa situasi krisis ekonomi global yang dilalui Indonesia, bukan hanya terjadi hari ini. Dengan begitu, catatan sejarah telah membuktikan bahwa ekonomi Indonesia kuat, setidaknya terbukti pada krisis tahun 2008 dan 2020.
“Di tahun-tahun tersebut, murni 90% eksternal faktor,” sambungnya.
Kesepakatan OJK dan BEI untuk mengkaji kemungkinan perusahaan melakukan buyback tanpa RUPS pun, dinilai dapat membuat investor institusi nyaman untuk menaruh dananya. Hal ini diiringi keberadaan Undang-Undang BUMN yang lebih memberikan fleksibilitas kepada institusi untuk menempatkan dana investasinya.
Senada, perwakilan Grup Sinar Mas Franky Widjaja melihat penurunan IHSG dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Namun dia menyarankan investor untuk mempercayai saran pebisnis bahwa pelemahan indeks saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli saham
“Ini time to buy, fundamentals are good,” tegas Franky.
Namun dia mengingatkan investor untuk tidak terlalu agresif dalam bertransaksi saham dengan fundamental yang kurang bagus. Franky juga menilai, banyak potensi yang harus dicari bersama-sama oleh para pemangku kepentingan dan pelaku pasar.
Di sisi lain, Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu menegaskan dukungan grup Barito terhadap pemerintahan Prabowo, terutama tujuan pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.
“Selama ini kami bangga beberapa tahun ini rata-rata semua di atas 10% (pertumbuhan kinerja) dari grup kami. Jadi kalau cerita badai yang kami rasakan, badai akan kami lalui, semoga semua tenang dan kita bisa melalui badai ini,” tutur Agus.
Baca Juga
Disebut Danantara Belum Katrol IHSG, Rosan Roeslani: Fundamental BUMN Kita Baik
Sementara, Direktur Utama Indika Energy Arsjad Rasyid menyambut baik pertemuan dengan pelaku pasar, yang diinisiasi oleh OJK dan BEI. Sebab, gejolak ekonomi global membuat memberi dampak negatif terhadap pergerakan pasar modal dalam negeri.
“Di Indonesia, bagaimana memastikan pasar domestik dan pengusaha sebagai pelaku pasar bersatu dengan upaya bersama. Kalau bukan kita siapa lagi,” ujarnya.

