Enam Perusahaan Antre Melantai di BEI, Dana IPO Baru Terhimpun Rp 1,67 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih terdapat enam perusahaan yang antre melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham hingga 8 Juli 2026.
Sementara hingga periode yang sama, jumlah dana terhimpun melalui IPO masih sekitar Rp 1,67 triliun dari lima perusahaan yang sahamnya baru tercatat di BEI sejak awal tahun.
Jumlah tersebut jauh lebih rendah, dibandingkan realisasi IPO saham per 20 Juni 2025 dengan himpunan dana segar Rp 7,01 triliun dari 14 perusahaan baru yang melantai di BEI.
Baca Juga
OJK: 11 IPO dalam Pipeline, Penghimpunan Dana Pasar Modal Capai Rp 119,67 Triliun di Semester I
Dilihat dari klasifikasi asetnya berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat tiga perusahaan skala besar yang masuk pipeline IPO di BEI per 8 Juli 2026. “Ditambah satu perusahaan dengan aset skala kecil dan dua perusahaan aset skala menengah,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin melalui pesan singkat pada Rabu (8/7/2026).
Perusahaan skala besar adalah entitas bisnis yang memiliki aset di atas Rp 250 miliar, sedangkan perusahaan skala menengah beraset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, dan perusahaan skala kecil memiliki aset di bawah Rp 50 miliar.
Sementara berdasarkan klasifikasi sektor, calon emiten dari sektor kesehatan dan barang konsumen non-primer mendominasi, dengan jumlah masing-masing dua perusahaan. Disusul dengan masing-masing satu perusahaan dari sektor bahan baku dan barang konsumen primer.
Baca Juga
Danamon (BDMN) Bidik Pertumbuhan Tabungan Valas hingga 60% di Akhir 2026
Sementara dari penerbitan obligasi dan rights issue BEI telah mencetak angka Rp 98,39 triliun sejak awal tahun sampai 8 Juli 2026. Saidu merinci, telat diterbitkan 93 emisi dari 52 penerbit dengan dana himpunan sebesar Rp 94,45 triliun per 20 Juni 2024
“Selanjutnya, masih ada 28 emisi dari 21 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” sambung dia.
Obligasi yang akan diterbitkan berdasarkan data BEI, paling banyak berasal dari sektor infrastruktur yakni enam perusahaan, disusul masing-masing lima perusahaan dari sektor keuangan dan energi.
Baca Juga
PEFINDO Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat pada Semester II-2026
Selanjutnya terdapat masing-masing dua perusahaan dari sektor konsumer primer dan barang baku yang juga antre menerbitkan obligasi. Sementara dari sektor kesehatan hanya tersisa satu perusahaan yang akan menerbitkan obligasi.
Di sisi lain, bursa mencatatkan hasil rights issue sekitar Rp 3,89 triliun miliar dari empat perusahaan tercatat. “Serta masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI dari sektor properti dan real estate,” pungkas Saidu.
