Analis: Indonesia Tak Mungkin Jatuh ke Frontier Market
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia tidak mungkin jatuh ke dalam klasifikasi Frontier Market (FM), setelah hasil tahunan MSCI Market Classification Review pada Juni lalu mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Markets (EM).
Hans Kwee, Co-Founder PasaRDana/Center of Applied Finance and Economics Study (CAFÉ) Universitas Atma Jaya menyatakan, belakangan ada pendapat bahwa Indonesia berpeluang turun ke Frontier Market (FM). Dia menilai pandangan tersebut tidak berdasar.
Hans menjelaskan, untuk tetap di Emerging Markets, harus ada minimal 3 saham yang memenuhi kriteria MSCI, yakni pertama, Company Size (Ukuran Perusahaan), yakni mengukur total nilai kapitalisasi pasar perusahaan secara utuh (Full Company Market Capitalization). Di EM harus minimal US$ 3,937 miliar.
Kedua, Security Size (Ukuran Efek/Saham), yang mengukur nilai kapitalisasi pasar saham yang sudah disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik (Free Float-Adjusted Market Capitalization atau Float MCap). MSCI ada Foreign Inclusion Factor (FIF) yakni faktor penyesuaian yang digunakan MSCI untuk mengukur porsi saham emiten yang benar-benar tersedia, likuid, dan dapat dibeli oleh investor institusi internasional. Untuk EM minimal US$ 1,969 miliar.
Ketiga adalah Security Liquidity (Likuiditas Efek/Saham), yakni untuk memastikan saham memiliki aktivitas perdagangan yang cukup dan konsisten agar investor institusi besar bisa keluar-masuk tanpa memicu ganguan harga yang ekstrem. Untuk EM harus 15% dari Annualized Traded Value Ratio (ATVR). “ATVR adalah rasio yang mengukur seberapa aktif saham diperdagangkan dalam setahun, tetapi nilainya disesuaikan hanya dengan porsi saham publik (Free Float), bukan total saham perusahaan secara keseluruhan,” kata Hans.
Hans menegaskan, untuk saat ini pasar saham Indonesia ada 11 saham yang memenuhi 3 syarat di atas. “Artinya kalaupun ada beberapa saham Indonesia yang keluar pada penyesuaian Agustus 2026, jumlah saham Indonesia yang di atas kriteria itu masih lebih dari 3. Dengan kata lain, menyebut Indonesia akan turun ke Frontier Market adalah kurang berdasar,” tegas Hans.
Tentang kenapa MSCI mempertahankan status freeze (pembekuan) untuk Indonesia, Hans menilai karena MSCI masih menggunakan data baru Indonesia hasil reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO. MSCI pasti perlu waktu untuk menerapkan data baru Indonesia yang saat ini lebih lengkap dan transparan. “Data HSC dan klasifikasi investor yang naik dari 9 ke 39 serta data kepemilikan saham diatas 1 % tentu akan mempertajam analisa,“ ujarnya.
Dalam pandangan Hans, pasar saham Indonesia mulai membaik, pasca negosiasi AS dan Iran dan pembukaan kembali selat hormuz. Hal ini membuat suplai minyak kembali ke pasar dan harga minyak internasional telah turun. Seiring meningkatnya ketersediaan pasokan, struktur pasar minyak berubah dari ”backwardation” menjadi ”contango”, yang mencerminkan semakin berkurangnya ekspektasi pasar terhadap potensi kekurangan pasokan di jangka pendek. Ini membuat risiko Indonesia menurun.
Indonesia adalah net importir minyak dan masih memberikan subsidi BBM. Karena itu, ketika harga minyak dunia tinggi dengan pola ”backwardation”, maka banyak yang berasumsi ekonomi Indonesia akan tertekan karena defisit APBN akan melebar, defisit neraca perdagangan akan berlanjut dan kenaikan BBM nonsubsidi menekan daya beli kelas menengah. “Tetapi seiring turunnya harga minyak dunia risiko Indonesia menurun sehingga tekanan pasar saham Indonesia berkurang,” kata Hans.
