Merdeka Battery (MBMA) Cetak Laba US$29,94 Juta di Kuartal I-2026, Lampaui Capaian Sepanjang 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 29,94 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan rugi US$ 3,45 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, laba tersebut telah melampaui keuntungan perseroan sepanjang 2025.
Laba bersih kuartal I-2026 tersebut juga telah melampaui laba bersih perseroan sepanjang 2025 yang mencapai US$ 29,56 juta. Sebagai perbandingan, laba bersih MBMA pada 2025 meningkat dari US$22,78 juta pada 2024.
Selain laba yang tumbuh signifikan, pendapatan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu naik 24% (yoy) menjadi US$455,1 juta pada Januari-Maret 2026. Sementara itu, EBITDA meningkat 361% (yoy) menjadi US$143 juta.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Raup Pendapatan US$ 2,6 Juta pada Kuartal I 2026, Ditopang Tambang Pani
Presiden Direktur Merdeka Battery Materials Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan, pertumbuhan kinerja didorong oleh peningkatan volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, serta penguatan margin nickel pig iron (NPI).
"Fokus kami tetap pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, serta kelanjutan pengembangan proyek-proyek hilir sebagai pendorong pertumbuhan perseroan," ujar Teddy, Senin (29/6/2026).
Aktivitas penambangan nikel tetap menjadi salah satu penopang utama kinerja perseroan. Selama kuartal I-2026, volume bijih yang ditambang meningkat 143% (yoy) menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt), didorong kenaikan produksi limonit dan saprolit.
Penjualan limonit naik 126% (yoy) menjadi 4,8 juta wmt, terutama untuk mendukung operasi high pressure acid leaching (HPAL). Sementara itu, pengiriman saprolit meningkat 42% menjadi 1,9 juta wmt, seiring optimalisasi pasokan dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) untuk memenuhi kebutuhan smelter perseroan.
Baca Juga
Merdeka Battery Materials (MBMA) Bidik Pertumbuhan Produksi hingga 140%
Manajemen menyebut margin bijih nikel tetap kuat berkat harga jual rata-rata yang lebih baik dan peningkatan volume pengiriman. Saprolit mencatat margin tunai sebesar US$4 per wmt, sedangkan limonit mencapai US$10,1 per wmt. "Kinerja ini menegaskan pentingnya basis cadangan bijih MBMA dalam mendukung operasi hilir dan menjaga ketahanan margin di sepanjang rantai nilai," kata Teddy.
Pada segmen NPI, fasilitas RKEF MBMA mengolah 2,2 juta wmt bijih saprolit berkadar nikel rata-rata 1,57%, menghasilkan 19.990 ton nikel dalam bentuk NPI, termasuk low-grade nickel matte (LGNM).
Produksi dan penjualan NPI meningkat 23% (yoy) setelah selesainya kegiatan pemeliharaan pada 2025. Margin tunai NPI mencapai US$3.982 per ton nikel, didukung harga jual yang lebih tinggi serta berkurangnya ketergantungan terhadap pasokan saprolit dari pihak ketiga. Di sisi lain, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) meningkat 9% (yoy) menjadi 10.361 ton, sedangkan penjualannya turun 19% akibat faktor waktu pengiriman.
Baca Juga
MBMA Bakal Buyback Saham Rp 1,46 Triliun, Ini Jadwal Pelaksanaannya
Pada segmen pengolahan hilir, PT ESG New Energy Material memproduksi 5.194 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Peningkatan tersebut didukung efisiensi pengiriman bijih setelah penyelesaian Feed Preparation Plant SCM dan jalur pipa slurry menuju IMIP pada kuartal IV-2025.
Dari sisi keuangan, MBMA mempertahankan likuiditas yang solid. Hingga 31 Maret 2026, perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar US$350 juta. Total utang tercatat US$1,06 miliar, dengan utang bersih sebesar US$710 juta. Rasio utang bersih terhadap EBITDA berada di level 2,1 kali, masih jauh di bawah batas rasio yang dipersyaratkan sebesar 5 kali.
Hingga akhir 2026, MBMA menargetkan pengiriman bijih saprolit sebanyak 8 juta-10 juta wmt dan penjualan bijih limonit sebesar 20 juta-25 juta wmt. Perseroan juga membidik produksi NPI sebesar 70.000-80.000 ton nikel, produksi HGNM sebanyak 44.000-48.000 ton, serta produksi MHP dari operasi HPAL ESG sebesar 27.000-30.000 ton.
Perseroan menegaskan panduan kinerja 2026 tersebut tetap bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). "Ke depan, MBMA berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan momentum kinerja kuartal I-2026, didukung peningkatan volume bijih nikel, visibilitas margin yang lebih baik, peningkatan pasokan mandiri untuk operasi RKEF, serta pengembangan platform HPAL perseroan," tutup Teddy.
