Jepang Resmikan Stablecoin RLUSD Ripple, Pasar Kripto Asia Kian Kompetitif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Stablecoin RLUSD milik Ripple yang didukung dolar Amerika Serikat (AS) resmi memperoleh persetujuan dari regulator keuangan Jepang. Izin tersebut membuka jalan bagi RLUSD untuk diperdagangkan di salah satu pasar aset kripto dengan regulasi paling ketat di Asia.
Otoritas Jasa Keuangan Jepang (Japan Financial Services Agency/FSA) memberikan persetujuan kepada RLUSD sebagai instrumen pembayaran elektronik berdasarkan Undang-Undang Layanan Pembayaran Jepang. Status tersebut memungkinkan stablecoin yang diterbitkan di luar negeri digunakan secara legal oleh institusi maupun investor ritel di Jepang.
RLUSD akan dipasarkan melalui SBI VC Trade, unit bisnis aset digital milik SBI Group, dan tersedia di platform VCTRADE. Langkah ini menjadi tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) antara Ripple dan SBI yang ditandatangani pada Agustus 2025, sekaligus memperkuat kemitraan kedua perusahaan yang telah terjalin sejak 2016 dalam pengembangan pembayaran lintas negara dan teknologi blockchain di Asia.
Wakil Presiden Senior Stablecoin Ripple Jack McDonald mengatakan RLUSD dirancang menjadi jembatan untuk pembayaran lintas batas, tokenisasi aset, dan manajemen agunan yang menghubungkan pelaku usaha Jepang dengan likuiditas dolar global.
"RLUSD akan berfungsi sebagai jembatan untuk pembayaran, tokenisasi, dan manajemen agunan," ujarnya mengutip Coindesk, Minggu (28/6/2026).
Baca Juga
Meski demikian, skala RLUSD masih relatif kecil dibandingkan stablecoin global lainnya. Sejak diluncurkan pada akhir 2024, kapitalisasi pasar RLUSD telah mencapai sekitar US$ 1,7 miliar. Nilai tersebut masih jauh di bawah USDT milik Tether yang memiliki kapitalisasi sekitar US$ 186 miliar dan USDC milik Circle sekitar US$ 74 miliar.
Peluncuran RLUSD di Jepang berlangsung di tengah meningkatnya perhatian regulator global terhadap stablecoin. Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga sejumlah negara Asia kini mulai menerapkan kerangka regulasi yang lebih jelas untuk aset digital tersebut.
Baca Juga
Di sisi lain, Jepang juga terus memperkuat ekosistem stablecoin domestik. Tiga bank terbesar di negara itu, yakni MUFG, Sumitomo Mitsui, dan Mizuho, berencana menerbitkan stablecoin bersama paling lambat Maret tahun depan untuk mendukung pembayaran transaksi saham dan berbagai produk keuangan lainnya.
Stablecoin merupakan aset kripto yang nilainya dipatok pada aset tertentu, seperti dolar AS atau yen Jepang. Teknologi ini dinilai mampu menghadirkan transfer dana lintas negara dengan biaya lebih rendah dan proses penyelesaian transaksi yang lebih cepat dibandingkan sistem pembayaran konvensional.
Pasar stablecoin global saat ini diperkirakan bernilai sekitar US$ 300 miliar dan masih didominasi oleh token yang dipatok terhadap dolar AS. Masuknya RLUSD ke Jepang diperkirakan akan memperketat persaingan di pasar stablecoin yang semakin berkembang, terutama untuk kebutuhan pembayaran institusi dan tokenisasi aset.
