Survei Ripple: Persaingan Bisnis Kian Ketat, Lembaga Keuangan Perlu Percepat Adopsi Aset Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Tekanan persaingan yang semakin ketat mendorong lembaga keuangan global mempercepat adopsi aset digital. Hal itu tergambar dalam survei Ripple terhadap lebih dari 1.000 pemimpin keuangan global dari sektor perbankan, manajer aset, fintech, dan korporasi yang dirilis pada 19 Maret 2026.
Hasil survei menunjukkan industri jasa keuangan kini bergerak dari tahap eksperimen menuju implementasi aset digital secara lebih nyata. Sebanyak 72% responden menilai para pemimpin keuangan harus menawarkan solusi aset digital agar tetap kompetitif dalam jangka panjang.
Ripple dalam laporannya menyebut urgensi tersebut menandai bahwa transformasi aset digital tidak lagi dipandang sebagai agenda masa depan, melainkan kebutuhan saat ini.
Melansir Bitcoin.com, Minggu (22/3/2025) stablecoin menjadi salah satu use case utama dalam survei tersebut. Sebanyak 74% responden menilai stablecoin mampu meningkatkan efisiensi arus kas sekaligus membuka modal kerja, sehingga perannya tidak lagi terbatas pada alat pembayaran, tetapi juga mulai masuk ke fungsi operasional treasury.
Di sisi lain, perusahaan fintech tercatat lebih agresif dalam mengintegrasikan aset digital, baik untuk kebutuhan internal maupun layanan yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Data survei menunjukkan 31% perusahaan fintech menggunakan stablecoin untuk menagih pembayaran, sementara 29% lainnya menerima stablecoin secara langsung. Selain itu, 47% perusahaan fintech memilih membangun infrastruktur sendiri ketimbang mengandalkan pihak ketiga.
Baca Juga
Berbeda dengan fintech, perusahaan non keuangan cenderung memilih dukungan eksternal. Sebanyak 74% responden dari kalangan korporasi menyatakan berencana bermitra dengan penyedia layanan untuk mengurangi kompleksitas operasional dalam penerapan aset digital.
Ripple menilai aset digital kini semakin menjadi fondasi baru dalam layanan keuangan, didorong oleh regulasi yang lebih progresif, meningkatnya minat dari bank-bank besar, pergeseran konsumen dari bank ke penyedia fintech, serta pertumbuhan adopsi stablecoin.
Dalam aspek infrastruktur, penyimpanan aset digital atau custody tetap menjadi perhatian utama, terutama di tengah berkembangnya strategi tokenisasi di kalangan bank dan manajer aset. Dari responden yang sedang mengevaluasi mitra, 89% menyebut keamanan penyimpanan sebagai syarat utama.
Bank juga menempatkan layanan siklus hidup aset sebagai prioritas, dengan porsi 82%, sementara manajer aset lebih menekankan pentingnya distribusi utama sebesar 80%. Dukungan konsultasi pra-penerbitan juga dinilai penting, masing-masing oleh 85% bank dan 76% manajer aset, yang menunjukkan kebutuhan tidak hanya pada sistem teknis, tetapi juga panduan strategis.
Baca Juga
Survei juga menunjukkan bahwa pemilihan mitra kini semakin dipengaruhi oleh faktor keamanan, kepatuhan, dan kemampuan integrasi. Sedikit di atas separuh perusahaan fintech dan lembaga keuangan memilih platform terpadu, sedangkan 71% perusahaan lebih memilih penyedia terkonsolidasi untuk mengurangi fragmentasi vendor.
Sertifikasi keamanan menjadi faktor yang paling banyak dipertimbangkan, dipilih oleh 97% responden. Faktor lain yang juga menonjol adalah dukungan pasca-integrasi sebesar 88%, keahlian industri 80%, dan kekuatan finansial penyedia sebesar 79%. Selain itu, responden juga menyoroti pentingnya kejelasan regulasi, keamanan penyimpanan, kepatuhan, dan pengelolaan volatilitas.
Ripple pun menegaskan keputusan infrastruktur yang diambil saat ini akan sangat menentukan posisi kompetitif pelaku industri ke depan.

