IHSG Anjlok 4,55% Sepekan, Sebaliknya Pemodal Asing Mulai Borong Saham BBCA dan BREN
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok sebanyak 4,55% menjadi 5.896,13 sepanjang pekan ini. Penurunan tersebut memicu menguapnya kapitalisasi pasar (market cap) sebanyak Rp 486 triliun menjadi Rp 10.302 triliun.
Pelemahan tersebut membuat toal penurunan IHSG BEI sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) telah mencapai 31,81%. Dengan demikian kinerja IHSG BEI tercatat masih yang terburuk di dunia.
Baca Juga
Saham Chip-AI di Wall Street Rontok Lagi, Indeks Nasdaq Catat Penurunan 5 Hari Beruntun
Penurunan indeks pekan ini dipicu atas kejatuhan sejumlah sejumlah saham big cap, seperti BMRI melemah 7,42%, BRMS turun 24,55%, AMMN melemah 12,57%, BREN turun 10,19%, dan BRPT melemah 13,82%.
Adapun sektor saham dengan penurunan paling dalam dicatatkan saham sektor material dasar sebanyak 11,19%, sektor energi 6,34%, sektor industri 7,41%, sektor konsumer primer 6,09%, sektor keuangan 2,83%, dan sektor transportasi 5,21%.
Berdasarkan data bahwa penurunan indeks BEI ini merupakan yang terdalam di kawasan Asean. Lainnya FTSE Malaysia turun hanya 2,59%, SET Indeks Thailand turun 1,92%, PSEi Indeks Filipina turun 1,03%, dan Strait Times melemah 0,02%. Hanya indeks saham Vietnam yang berhasil naik 1,78%.
Net Sell Jumbo
Selain mencatatkan penurunan, pemodal asing terpantau melanjutkan penarikan dana atau net sell mencapai Rp 3,43 triliun tahun ini. Angka tersebut melonjak dari realisasi pekan sebelumnya sebanyak Rp 904,07 miliar.
Baca Juga
Penerbitan Surat Utang Danantara Harus Transparan dan Tak Berlebihan
Net sell terbanyak melanda saham BMRI senilai Rp 951,08 miliar, BBRI mencapai Rp 405,35 miliar, TPIA sebanyak Rp 272,85 miliar, CASA mencapai Rp 226,83 miliar, dan EMAS senilai Rp 220,01 miliar.
Adapun lima saham dengan pembelian bersih (net buy) terbanyak pekan ini dicatatkan saham BREN senilai Rp 358,87 miliar, BBCA mencapai Rp 292,79 miliar, ANTM mencapai Rp 224,94 miliar, TINS senilai Rp 105,18 miliar, dan DSSA mencapai Rp 99,22 triliun.
