CEO BMoney: Nilai Koreksi IHSG Sudah Berlebihan, Saatnya Akumulasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar modal Indonesia dinilai telah melewati fase terburuk setelah menghadapi tekanan dari faktor global maupun domestik sepanjang tahun ini. Dengan valuasi yang semakin menarik dan arus keluar investor asing yang sudah cukup besar, peluang pemulihan pasar mulai terbuka.
Angganata Sebastian Chief Executive Officer (CEO) BMoney, platform investasi digital milik PT Buka Investasi Bersama (BIB), perusahaan teknologi finansial subsidiari dari PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), mengatakan pasar modal Indonesia selama ini selalu dipengaruhi kondisi global karena keterkaitan ekonomi dunia yang semakin kuat.
"Saya selalu melihat pasar modal itu dari dua hal karena ekonomi ini bersifat global. Jadi kita tidak kenapa-kenapa, global kenapa-kenapa pasti kita kena," ujar Angga dalam media gathering di Jakarta, Selasa (23/6/2026),
Baca Juga
IHSG Cenderung Naik Usai Review MSCI, Tiga Saham Dipimpin OASA Layak Dicermati
Ia mencontohkan krisis keuangan global pada 2008 yang sempat mengguncang pasar keuangan dunia akibat bangkrutnya sejumlah lembaga keuangan di Amerika Serikat (AS), seperti Lehman Brothers. Meski demikian, Indonesia saat itu relatif mampu pulih lebih cepat karena fundamental ekonomi domestik masih kuat. "Tekanan yang lebih berat justru pernah terjadi pada 2013 ketika nilai tukar rupiah melemah dari kisaran Rp 10.000 menjadi Rp 13.000 per dolar AS," kata Angga.
Kini, kondisi pasar dinilai menghadapi kombinasi tantangan global dan domestik secara bersamaan. Dari sisi global, perang antara Iran dan Israel sempat memicu kekhawatiran inflasi dan perubahan arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat. "Ada kemungkinan Amerika yang seharusnya tahun ini menurunkan bunga malah bisa menaikkan bunga karena inflasinya tinggi setelah perang kemarin (AS/Israel-Iran)," katanya.
Meski konflik tersebut mulai mereda, ketidakpastian masih membayangi pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat investor cenderung menahan diri untuk menambah maupun mengurangi eksposur investasi. "Market melihat ketidakpastian itu masih ada. Mereka tidak berani masuk, tidak berani keluar, tidak berani ngapa-ngapain," ujarnya.
Tekanan Domestik Mulai Mereda
Selain faktor global, Angganata mengakui pasar Indonesia sempat menghadapi sejumlah isu domestik yang memicu kekhawatiran investor asing. Ia menyinggung evaluasi indeks oleh MSCI, kondisi fiskal pemerintah, hingga sejumlah kebijakan yang dinilai kurang menarik bagi investor global.
Namun demikian, ia menilai sebagian besar sentimen negatif tersebut kini sudah tercermin dalam harga aset. "Kalau ditanya, menurut saya ini yang jelek-jelek sudah keluar semuanya. Jadi untuk lebih turun lagi (IHSG) menurut saya agak susah," katanya.
Menurut Angganata, pelemahan rupiah yang sempat mendekati Rp 18.000 per dolar AS dan koreksi IHSG hingga mendekati level 5.000 menunjukkan pasar telah memberikan hukuman yang berlebihan terhadap aset Indonesia. "Menurut saya itu overpunish. Jadi bukan saya bilang tidak bisa turun lagi, tapi untuk turun banyak itu susah," ujarnya.
Ia juga melihat pemerintah mulai menunjukkan respons yang lebih seimbang terhadap berbagai masukan pasar. Di sisi lain, harga minyak dunia yang kembali berada di kisaran US$ 70 per barel turut membantu mengurangi kekhawatiran terhadap beban subsidi energi.
Menurut dia, sebelumnya investor asing mempertanyakan keberlanjutan sejumlah program pemerintah dan kemampuan fiskal negara dalam membiayainya. Namun kondisi saat ini dinilai lebih terkendali dibanding beberapa bulan lalu.
Angganata menilai sektor perbankan menjadi indikator utama untuk melihat posisi investor asing di pasar Indonesia. Aksi jual besar-besaran yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat valuasi sejumlah bank besar berada pada level yang menarik. "Price to earnings Bank Mandiri tinggal sekitar 6 kali dan dividennya bisa double digit. Menurut saya itu menarik," katanya.
Ia juga menyoroti penurunan harga saham bank-bank besar yang sebelumnya menjadi favorit investor asing. "Dulu rasanya tidak mungkin asing jual BCA sampai di bawah rata-ratanya. Tapi sekarang dihajar sampai bawah. Artinya asing sudah banyak keluar," ujarnya.
Baca Juga
IHSG Anjlok 1,25%, Investor Wait and See Jelang Hasil MSCI Review
Dengan posisi investor asing yang sudah jauh berkurang, ia menilai ruang penurunan lebih lanjut menjadi semakin terbatas. Di sisi lain, jumlah investor ritel domestik terus meningkat dan mulai mampu menjadi penyeimbang pasar.
Meski melihat peluang besar di pasar saham, Angganata tetap mengingatkan pentingnya diversifikasi investasi.
Ia menegaskan tidak ada produk investasi atau manajer investasi yang selalu mencatatkan kinerja terbaik setiap saat. "Yang penting dalam investasi itu diversifikasi. Don't put your egg in one basket," katanya.
Namun, bagi investor yang tidak memiliki kebutuhan dana dalam waktu dekat, ia menilai kondisi pasar saat ini dapat menjadi momentum menarik untuk mulai mengakumulasi instrumen berbasis saham. "Kalau lihat kondisi sekarang, saham lagi murah. Selama tidak ada kebutuhan dalam waktu dekat, itu mungkin ada baiknya juga," ujarnya.
