Konflik Timur Tengah Picu Aksi Jual, Bitcoin Kembali di Bawah Tekanan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan tajam setelah jatuh ke kisaran US$ 62.000 pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan baru ke wilayah Lebanon Selatan.
Bitcoin sempat turun hampir 5% secara intraday ke sekitar US$62.601. Koreksi tersebut turut menyeret pasar aset kripto secara luas dan memicu gelombang likuidasi besar di pasar derivatif.
Berdasarkan data CoinGlass, total likuidasi di pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar US$579,43 juta. Dari jumlah tersebut, posisi long mendominasi dengan nilai likuidasi sekitar US$496,62 juta, sementara posisi short mencapai US$82,81 juta. Lebih dari 139.000 trader tercatat terdampak dalam periode yang sama.
Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar, yakni sekitar US$191,49 juta. Ethereum menyusul dengan likuidasi sekitar US$135,46 juta. Sejumlah aset kripto lain seperti HYPE, XRP, SOL, dan ADA juga mengalami tekanan signifikan.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan penurunan tajam Bitcoin mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko ketika tensi geopolitik kembali memanas. Menurutnya, tekanan jual tidak hanya dipicu oleh sentimen makro, tetapi juga diperparah oleh posisi leverage yang terlalu padat di pasar derivatif.
“Ketika konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto. Dalam kondisi seperti ini, posisi leverage yang menumpuk dapat mempercepat penurunan harga karena likuidasi berantai memicu tekanan jual tambahan,” ujar Fyqieh dalam risetnya, Jumat (19/6/2026).
Ia menambahkan, area US$60.000 saat ini menjadi level psikologis penting bagi Bitcoin. Selama area tersebut mampu dipertahankan, peluang konsolidasi masih terbuka. Namun, apabila tekanan jual berlanjut dan Bitcoin gagal bertahan di atas level tersebut, pasar berisiko memasuki fase koreksi yang lebih dalam.
“Level US$60.000 menjadi area kunci yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika mampu bertahan, Bitcoin berpotensi membangun fondasi pemulihan secara bertahap. Namun, apabila level ini ditembus dengan volume besar, risiko pelemahan lanjutan masih cukup terbuka,” kata Fyqieh.
Baca Juga
Bitcoin Tembus US$ 67.000, Optimisme Perdamaian AS-Iran Picu Reli Kripto dan Saham
Faktor Ketegangan di Timur Tengah
Ketegangan di Timur Tengah menjadi pemicu utama meningkatnya volatilitas pasar. Serangan Israel ke Lebanon Selatan dilaporkan terjadi meski Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati nota kesepahaman yang bertujuan membatasi eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Media pemerintah Lebanon melaporkan satu orang tewas akibat serangan drone Israel di wilayah selatan Lebanon. Di sisi lain, militer Israel menyatakan satu tentaranya tewas dan tujuh lainnya terluka dalam insiden terpisah di kawasan tersebut.
Pemerintah Israel menyatakan operasi militer di Lebanon Selatan akan tetap berlanjut untuk menghilangkan ancaman terhadap warga Israel di wilayah utara. Militer Israel juga memublikasikan peta zona penyangga yang membentang sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini berada di area krusial US$64.000 hingga US$66.000. Jika mampu kembali menembus zona tersebut, peluang pemulihan menuju area resistensi US$74.000 hingga US$76.000 dapat terbuka. Sebaliknya, penolakan di area ini berpotensi membuat Bitcoin bergerak terbatas di rentang US$60.000 hingga US$65.000.
Baca Juga
Bitcoin Menguat Dekati US$ 66.000 Usai Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran
Tekanan Bearish
Data on chain juga menunjukkan pasar belum sepenuhnya keluar dari tekanan bearish. Rasio Realized Profit/Loss dalam 30 hari masih berada di bawah level 1, yang mengindikasikan realisasi kerugian masih lebih dominan dibandingkan pengambilan keuntungan. Sementara itu, Short-Term Holder MVRV masih berada di bawah titik impas, menandakan sebagian investor jangka pendek masih berada dalam posisi rugi.
Meski demikian, beberapa indikator menunjukkan adanya upaya pembentukan dasar harga di sekitar US$60.000. Likuiditas beli di order book spot disebut mulai meningkat, menandakan sebagian pelaku pasar bersiap menyerap tekanan jual di level bawah.
Fyqieh menilai investor perlu tetap disiplin dalam mengelola risiko di tengah pasar yang masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arus likuidasi.
“Volatilitas dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih tinggi. Investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga terlihat murah. Manajemen risiko, penggunaan leverage yang konservatif, dan pemantauan level support utama menjadi sangat penting dalam kondisi pasar seperti saat ini,” tutup Fyqieh.
Ke depan, arah pergerakan Bitcoin akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen geopolitik, arus dana institusional, kondisi teknikal, serta kemampuan pasar mempertahankan area support US$60.000. Selama ketidakpastian global masih tinggi, aset kripto diperkirakan tetap bergerak volatil.
