Serangan AS–Israel ke Iran Picu Aksi Jual, Bitcoin Berdarah-darah dan Kini di US$ 63.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin jatuh ke posisi US$ 63.000 dalam perdagangan Sabtu (28/2/2026) siang waktu Asia setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Langkah itu mendorong mata uang kripto terbesar itu turun sekitar 3% dalam hitungan jam dan memperpanjang akhir pekan yang sudah sulit bagi aset berisiko, hingga minus sekitar 6% dalam sehari dan 7% dalam sepekan.
Pergerakan ini membawa Bitcoin ke level terendahnya sejak jatuhnya harga pada 5 Februari, ketika token tersebut sempat turun di bawah US$ 60.000.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengumumkan keadaan darurat segera di seluruh wilayah Israel. Seorang pejabat AS mengkonfirmasi partisipasi Amerika dalam serangan tersebut, lapor The Wall Street Journal.
Baca Juga
Inflasi AS Panas, Bitcoin Kembali Melemah dan Terancam Lanjutkan Penurunan
Penurunan harga ini mengikuti pola yang sudah mapan. Bitcoin diperdagangkan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sementara pasar saham dan obligasi tutup pada akhir pekan. Hal itu menjadikannya salah satu dari sedikit aset besar dan likuid yang tersedia bagi para pedagang untuk dijual ketika risiko geopolitik meningkat di luar jam pasar tradisional.
Akibatnya, melansir Coindesk, Sabtu (28/2/2026) Bitcoin sering bertindak sebagai katup pengaman bagi sentimen penghindaran risiko yang lebih luas selama peristiwa akhir pekan, menyerap aksi jual yang seharusnya menyebar ke seluruh saham, komoditas, dan mata uang jika pasar-pasar tersebut buka.
Baca Juga
Citi Bakal Rilis Layanan Penitipan dan Perbankan Bitcoin di Tahun Ini
Serangan tersebut berisiko memicu konflik regional yang lebih luas di salah satu wilayah yang paling sensitif secara ekonomi di dunia, menyusul peningkatan kekuatan militer AS selama sebulan dan kegagalan negosiasi mengenai program nuklir Iran.

