Samuel Sekuritas: Sikap Hawkish The Fed Persempit Ruang Pemangkasan BI Rate
JAKARTA, investortrust.id – Samuel Sekuritas Indonesia menilai sikap Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) semakin hawkish, meskipun kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50-3,75% dalam rapat Juni 2026.
Menurut Samuel Sekuritas, keputusan The Fed menahan suku bunga untuk keempat kalinya secara beruntun memang sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, proyeksi ekonomi terbaru menunjukkan para pembuat kebijakan di bank sentral AS masih lebih mengkhawatirkan risiko inflasi dibandingkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
“Proyeksi terbaru menunjukkan The Fed semakin khawatir terhadap inflasi dibandingkan pertumbuhan ekonomi,” tulis tim riset Samuel Sekuritas, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga
OJK Beberkan Dampak Kenaikan BI Rate Bagi Multifinance, Industri Diminta Perkuat Mitigasi Risiko
Samuel Sekuritas menyoroti adanya perbedaan pandangan di kalangan anggota Federal Open Market Committee (FOMC). Sebanyak sembilan pejabat memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini, sementara enam pejabat lainnya memproyeksikan dua kali atau lebih kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, sembilan anggota FOMC lainnya memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga atau bahkan penurunan suku bunga.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga meningkat setelah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, tidak menyampaikan proyeksi suku bunga pribadinya. Kondisi tersebut membuat pasar memiliki panduan yang lebih terbatas mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melemah 1,06%, Sebaliknya Saham JECC, CBUT, dan ZONE Cetak ARA
Samuel Sekuritas mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun 2026 dipangkas menjadi 2,2% dari sebelumnya 2,4%. Namun, pada saat yang sama, perkiraan inflasi justru mengalami peningkatan signifikan.
Inflasi PCE 2026 diproyeksikan mencapai 3,6%, naik dari estimasi sebelumnya sebesar 2,7%. Sedangkan proyeksi inflasi 2027 direvisi menjadi 3,3%. Menurut Samuel Sekuritas, kombinasi pasar tenaga kerja yang masih kuat, aktivitas ekonomi yang solid, serta tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat peluang The Fed untuk segera beralih ke kebijakan yang lebih longgar semakin kecil.
Baca Juga
Bagi Indonesia, kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri. Samuel Sekuritas menilai bias hawkish The Fed berpotensi membatasi ruang Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan risiko inflasi yang masih perlu dijaga. “Mempertahankan selisih imbal hasil yang menarik terhadap aset-aset AS akan tetap menjadi hal yang penting bagi BI untuk menarik aliran modal masuk dan mendukung rupiah,” tulis Samuel Sekuritas.
Selain itu, ruang pelonggaran moneter BI dinilai akan semakin terbatas apabila harga energi global tetap tinggi akibat meningkatnya tensi geopolitik. Samuel Sekuritas juga menilai langkah BI yang sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menunjukkan komitmen kuat otoritas moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mengendalikan ekspektasi inflasi.

