Rupiah Melemah Pagi Ini, Pasar Antisipasi Sikap Hawkish The Fed
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan pasar Kamis (25/6/2026). Rupiah melemah 0,06% menjadi Rp 17.963 per dolar AS, pada pukul 09.02 WIB.
Pelemahan juga terjadi dengan sejumlah mata uang utama seperti euro Uni Eropa. Nilai tukar euro melemah 0,01%. Sementara itu, poundsterling Britania Raya dan franc Swiss menguat masing-masing 0,03% dan 0,04%.
Baca Juga
Sejumlah mata uang di Asia juga tertekan dolar AS. Yuan China melemah 0,04% dan won Korea Selatan melemah 0,39%.
Sementara itu, yen Jepang menguat 0,04%, dolar Singapura menguat 0,02%, baht Tailan menguat 0,04%, peso Filipina menguat 0,17%, dan rupee India menguat 0,08%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat indeks dolar AS (DXY) melanjutkan penguatannya hingga di atas 101,7, mencapai level tertinggi sejak Maret 2025. Posisi ini berada di jalur untuk mencatatkan penguatan beruntun terpanjang dalam lebih dari satu bulan.
Dolar AS terus mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 68% untuk kenaikan suku bunga pada September, meningkat tajam dari 29% sepekan sebelumnya.
Baca Juga
IHSG dan Rupiah Kembali Tertekan, Mengapa Efek MSCI Belum Terasa?
Volatilitas pasar saham yang meningkat juga mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Investor memperhitungkan bahwa The Fed akan bersikap lebih hawkish dibandingkan bank-bank sentral utama lainnya, didukung oleh aktivitas ekonomi AS yang tetap kuat dan inflasi yang diperkirakan masih berada jauh di atas target.
Sementara harga emas bertahan di sekitar US$ 4.000 per troy ounce, namun tetap berada di dekat level terendah dalam hampir delapan bulan terakhir. Penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus menekan harga emas.
Dolar AS mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terhadap sejumlah mata uang utama, sehingga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS, seperti emas, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Pertumbuhan sektor manufaktur AS mencapai level terkuat sejak 2022. Indeks S&P Global US Manufacturing PMI naik menjadi 55,7 pada Juni 2026 dari 55,1 pada Mei, melampaui perkiraan pasar sebesar 54,8 dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2022.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa kondisi bisnis sektor manufaktur terus membaik sejak Agustus tahun lalu, dengan laju pertumbuhan yang semakin cepat sejak titik terendah pada Februari. Pendorong utama tren positif ini adalah percepatan pertumbuhan produksi yang mencapai level tercepat sejak Juli 2021.

