IHSG Ambles 38,22% Ytd, Analis Desak Transparansi dan Kebijakan Pro-Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Laju penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlanjut di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing dan meningkatnya tekanan di pasar keuangan domestik. Penurunan indeks telah mencapai 38,22% menjadi 5.342 sepanjang year to date (ytd) atau terburuk di dunia.
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa kejatuhan pasar modal saat ini dipicu oleh kombinasi distorsi likuiditas dan meningkatnya kecemasan terhadap prospek makroekonomi ke depan.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pelaku pasar menantikan peningkatan transparansi dari regulator pasar modal serta kebijakan pemerintah yang lebih pro-pasar guna memulihkan kepercayaan investor.
Baca Juga
Net Sell Jumbo Rp 447,05 Miliar, Investor Asing Lanjut Lepas Saham BBCA dan BBRI
“Ini menjadi tugas para stakeholder untuk benar-benar bisa mewujudkan ‘buy Indonesia’ yang bisa datang dengan sendirinya tanpa perlu dipaksakan atau bukan hanya sekadar retorika,” ujar Nafan melalui pesan suara, Senin (8/6/2026).
Nafan mengatakan investor institusi maupun investor asing selalu mengambil keputusan berdasarkan kepastian hukum, prospek pertumbuhan bisnis, serta potensi peningkatan kapitalisasi emiten. Karena itu, perbaikan ekosistem investasi secara menyeluruh dinilai penting untuk mengubah tren Sell Indonesia menjadi Buy Indonesia.
Tekanan di pasar saham domestik tercermin dari koreksi IHSG sebesar 4,52% atau turun 252,628 poin ke level 5.342,137 pada perdagangan Senin (8/6/2026).
Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka pada level 5.486,311 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.523,942 sebelum akhirnya turun hingga level terendah 5.317,908.
Baca Juga
IHSG Ambles 4,52% di Awal Pekan, Analis Waspadai Penurunan hingga 5.100
Pelemahan indeks didominasi oleh penurunan 661 saham, sementara hanya 78 saham menguat dan 78 saham lainnya ditutup stagnan.
Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 32,524 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.215.560 kali. Nilai transaksi harian mencapai Rp21,734 triliun, sementara kapitalisasi pasar modal Indonesia turun menjadi Rp9.438 triliun.
Nafan menilai kondisi pasar saat ini cukup ironis karena secara fundamental banyak emiten di BEI masih mencatatkan kinerja yang relatif solid. Ia juga menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih cukup tangguh dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya, yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten berada di atas 5%.
Menurutnya, ketahanan fundamental tersebut terlihat pada emiten-emiten perbankan besar maupun perusahaan berbasis konsumer yang masih mampu membukukan profitabilitas sehat.
Baca Juga
Meski demikian, pasar tetap menghadapi tekanan akibat arus keluar modal yang dipicu sentimen rebalancing MSCI. Kondisi tersebut diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang telah berada di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Nafan menambahkan, distorsi likuiditas juga terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang berkaitan dengan penerapan kebijakan dynamic interim freeze policy dari MSCI. Kebijakan tersebut mewajibkan saham dengan porsi free float di bawah 15% untuk memenuhi ketentuan baru guna meningkatkan transparansi pasar modal.
Selain itu, tekanan makroekonomi juga meningkat setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin untuk menghadapi kondisi higher for longer di pasar global.
Cash Is King
Guna menghadapi volatilitas pasar, Nafan menyarankan investor tetap bersikap hati-hati dengan fokus pada saham defensif yang memiliki dividen tinggi melalui strategi pembelian bertahap. Investor juga disarankan mengedepankan prinsip cash is king serta memanfaatkan instrumen pasar uang untuk menjaga likuiditas.
Baca Juga
Dilantik Prabowo Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang Komitmen Efisiensi Anggaran MBG
Menurutnya, tidak ada saham yang sepenuhnya bebas dari dampak kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan fiskal, perpajakan, subsidi, maupun berbagai program strategis nasional.
Namun, emiten yang memiliki fundamental kuat dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang lebih tinggi dalam menghadapi perubahan kebijakan dan tantangan ekonomi.
“Mereka mampu mengelola struktur utang agar tetap sehat sehingga menjadi lebih resilient dalam melewati fase kebijakan pemerintah maupun tantangan ekonomi tersebut,” pungkas Nafan.

