IHSG Ambles 4,52% di Awal Pekan, Analis Waspadai Penurunan hingga 5.100
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot 4,52% pada perdagangan Senin (8/6/2026) di tengah kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Mengacu data BEI, IHSG ditutup turun 252,62 poin ke level 5.342. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 5.317 hingga 5.594 dengan nilai transaksi mencapai Rp20,01 triliun.
Pelemahan IHSG terjadi seiring koreksi yang melanda seluruh sektor saham, termasuk saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), seperti TLKM, BBCA, BBRI, BBNI, MLPT, MORA, hingga BRPT.
Baca Juga
Jadi Wakil Kepala BGN, Mayjen Trenggono Pilih Pensiun Dini dari TNI
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolan, mengatakan tekanan jual di pasar saham masih berlanjut akibat kombinasi faktor global dan domestik. Seluruh sektor tercatat ditutup di zona merah dengan sektor industri mengalami penurunan terdalam sebesar 6,39%.
“Tekanan jual berlanjut akibat faktor negatif dari global dan domestik (8/6/2026). Semua sektor melemah dengan pelemahan terbesar pada saham sektor industri 6,39%,” kata Alrich kepada investortrust.id, Senin (8/6/2026).
Dari sisi teknikal, Alrich menilai peluang pelemahan IHSG masih terbuka setelah indeks ditutup di bawah level MA200 bulanan. “Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA200 monthly, sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level 5.100,” ujarnya.
Baca Juga
Free Float Naik Jadi 25,7%, Chandra Asri (TPIA) Sebut Likuiditas Saham Akan Meningkat
Selain sentimen domestik yang dipengaruhi menurunnya kepercayaan investor, tekanan pasar juga datang dari faktor eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan yang mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh.
Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 4% pada perdagangan 8 Juni 2026. Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus memperlebar defisit APBN Indonesia pada 2026.
Mayoritas bursa saham Asia juga ditutup melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan koreksi saham-saham teknologi. Di sisi lain, nilai tukar rupiah kembali tertekan dan ditutup melemah 0,84% ke level Rp18.188 per dolar Amerika Serikat.
Investment Specialist KISI Sekuritas Azharys Hardian menilai, pelemahan IHSG merupakan dampak dari tekanan yang terjadi di pasar regional. “Pelemahan IHSG yang sempat menyentuh 4,4% di perdagangan hari ini sebenarnya merupakan efek domino dari rontoknya bursa regional, seperti KOSPI yang anjlok 8% dan Nikkei 3,96%,” ujar Azharys.
Baca Juga
IHSG Lagi-lagi Anjlok 4,52%, Giliran BBCA dan BBRI Jadi Penekan
Menurutnya, tekanan terhadap pasar domestik semakin besar karena pelemahan rupiah yang berlanjut hingga ke level Rp18.137 per dolar AS.
Azharys menambahkan, sentimen global juga dipicu oleh rilis data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang jauh melampaui ekspektasi pasar.
“Selain karena kondisi internal, pemicu utamanya adalah guncangan global pasca rilis data NFP Amerika Serikat yang jauh di atas ekspektasi, sehingga memicu lonjakan DXY sebesar 0,62% pada Jumat lalu,” katanya.

