BEI Tetap Optimistis Prospek Pasar Modal Meski IHSG Anjlok dan Tertekan 30% Ytd
JAKARTA, investortrust.id – Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan optimismenya terhadap prospek ekonomi nasional dan pasar modal Indonesia, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Jeffrey, pesan optimisme tersebut juga disampaikan saat kunjungan DPR dan Danantara ke Gedung BEI beberapa hari lalu. Ia menilai investasi di pasar modal merupakan investasi jangka panjang yang didukung fundamental ekonomi domestik yang diyakini akan terus membaik.
“Oh iya, kan kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang. Dan kita sama-sama meyakini bahwa fundamental ekonomi ke depan akan makin baik,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga
Rosan Sebut BUMN Baru PT Danantara Sumber Daya Indonesia untuk Transparansi Transaksi
Jeffrey menambahkan pemerintah juga terus mendorong kemudahan berusaha dan percepatan proses perizinan untuk memperkuat iklim investasi nasional.
“Kemarin juga ada pesan dari Presiden bahwa kemudahan berusaha, perizinan juga akan dipermudah dari yang dua tahun diharapkan bisa dalam hitungan minggu,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional dan pada akhirnya menopang kinerja pasar modal dalam jangka menengah hingga panjang.
“Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam jangka menengah panjang. Jadi, kami sih positif,” tambah Jeffrey.
Baca Juga
IHSG Sesi I Merosot Tajam 2,76%, Saham Konglomerasi Berguguran Saat Global Perkasa
Di sisi lain, IHSG pada perdagangan sesi I Kamis (21/5/2026) ditutup anjlok 174,14 poin atau 2,76% ke level 6.144. Pelemahan tersebut terjadi di tengah mayoritas pasar saham global yang justru mengalami rebound.
Tekanan tersebut membuat kinerja IHSG secara year to date (ytd) terkoreksi hampir 30% dan menjadi salah satu yang terburuk di dunia. Hampir seluruh saham mengalami pelemahan tajam, terutama saham-saham emiten konglomerasi.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham milik grup konglomerasi besar, mulai dari grup Prajogo Pangestu yang dipimpin pelemahan saham TPIA, hingga saham emiten Grup Sinarmas, emiten milik Boy Thohir, serta emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro dan konglomerasi lainnya.

