Rupiah Anjlok dan IHSG Jatuh 36%, Investor Repricing Risiko Indonesia?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia dinilai mencerminkan proses repricing atau penyesuaian ulang risiko Indonesia di mata investor global. Pelemahan rupiah, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mencapai lebih dari 36% dari puncaknya, serta derasnya arus keluar dana asing menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset domestik.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan investor saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi sebelum kembali menempatkan dana di pasar Indonesia.
“Ketika rupiah terus melemah, IHSG terkoreksi lebih dari 36% dari puncaknya, dan arus dana asing masih mencatatkan net sell yang besar, pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Hendra kepada investortrust.id, Minggu (7/6/2026).
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bearish Awal Pekan Ini, Saham DAAZ dan PSAB Dipertahankan Beli
Menurut dia, investor tidak hanya mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berbagai risiko yang melekat pada suatu negara. Risiko tersebut mencakup ketidakpastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, hingga kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
Hendra menilai faktor domestik kini memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap pergerakan pasar dibandingkan beberapa tahun lalu. Meski tekanan global seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik masih membebani negara berkembang, investor kini lebih selektif dalam menentukan tujuan investasi.
“Investor saat ini mulai melakukan perbandingan antarnegara emerging market dan memilih negara yang dinilai memiliki kepastian kebijakan lebih baik, risiko fiskal lebih rendah, serta arah pembangunan yang lebih mudah diprediksi,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai isu yang berkembang belakangan, mulai dari outlook rating, kebijakan fiskal, Danantara, hingga perubahan regulasi, pada dasarnya bermuara pada satu hal, yakni kepastian dan konsistensi kebijakan.
Baca Juga
Saham Berjangka AS Anjlok, Inflasi dan IPO SpaceX Jadi Sorotan Investor Wall Street Pekan Ini
Menurut Hendra, pasar cenderung memberikan respons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang maupun tata kelola kebijakan.
Terkait fenomena yang disebut sebagai “Sell Indonesia”, Hendra menegaskan kondisi tersebut lebih mencerminkan penurunan keyakinan sebagian investor dalam jangka pendek, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia mengalami kemunduran.
“Ini bukan berarti fundamental ekonomi Indonesia runtuh. Pertumbuhan ekonomi masih relatif positif, sektor perbankan tetap sehat, tingkat utang pemerintah masih lebih rendah dibanding banyak negara lain, dan mayoritas perusahaan terbuka masih mencatatkan laba,” ungkapnya.
Baca Juga
Terburuk di Dunia, IHSG Ambles 8,69% dan Market Cap Susut Rp 922 Triliun dalam 4 Hari
Untuk memulihkan kepercayaan investor, Hendra menilai pemerintah perlu memperkuat kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, stabilitas nilai tukar, serta peningkatan transparansi dan tata kelola program-program strategis nasional.
“Modal global akan selalu mencari negara yang menawarkan kombinasi terbaik antara stabilitas, kepastian, dan peluang pertumbuhan. Indonesia sebenarnya masih memiliki ketiga modal tersebut, namun pasar membutuhkan bukti yang lebih kuat bahwa seluruh kebijakan yang dijalankan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro,” tutup Hendra.

