Mayora Indah (MYOR) Incar Pertumbuhan Laba Dua Digit, Ekspor Jadi Mesin Penggerak di Tengah Kenaikan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Mayora Indah Tbk menargetkan penjualan sebesar Rp 41,8 triliun dan laba bersih Rp 3,4 triliun pada 2026. Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang mencatatkan penjualan Rp 38,68 triliun dan laba bersih sekitar Rp 2,9 triliun.
Investor Relation Mayora Indah Baskoro Santoso mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah tak bisa dipungkiri memberikan dampak positif secara keseluruhan bagi perseroan karena ditopang oleh kontribusi ekspor yang signifikan ke lebih dari 100 negara. Apalagi 40% dari penjualan Mayora berasal dari ekspor melalui entitas usahanya. Inilah yang menjadi pembeda emiten dengan kode saham MYOR tersebut dengan perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) lainnya.
“Dari sisi ekspor, kami mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. Memang ada dampak terhadap bahan baku impor maupun bahan baku lokal yang harganya mengacu pada dolar AS. Namun secara keseluruhan, keuntungan dari ekspor masih dapat mengompensasi kenaikan biaya bahan baku,” ujar Baskoro usai RUPST Perseroan, Kamis (4/6/2026).
Ia mengakui, tantangan utama yang masih dihadapi perseroan tahun ini berasal dari ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas turunannya. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya produksi, terutama pada bahan kemasan dan sejumlah bahan baku lainnya yang sensitif terhadap pergerakan harga energi.
Selain itu, rencana implementasi program biodiesel B50 juga berpotensi memengaruhi harga minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya yang menjadi salah satu komponen penting dalam industri makanan dan minuman.
“Kami terus memantau perkembangan tersebut dan akan mengambil langkah strategis yang diperlukan untuk menghadapinya,” kata Baskoro.
Baca Juga
Mayora Indah (MYOR) Cetak Kenaikan Laba 36,9%, Ini Penopangnya
Di sisi lain, Mayora melihat sejumlah peluang yang dapat mendukung kinerja tahun ini. Perseroan menilai peluncuran produk-produk baru dalam beberapa tahun terakhir mendapat respons positif baik di pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, tren penurunan harga komoditas kopi dan kakao pada 2026 diperkirakan dapat membantu meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Terkait program Koperasi Merah Putih yang tengah didorong pemerintah, Baskoro menilai inisiatif tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap penjualan perseroan melalui perluasan saluran distribusi. “Pada prinsipnya, semakin banyak outlet dan kanal distribusi yang tersedia akan membuka peluang peningkatan penjualan. Kami menjual produk melalui distributor, sehingga penambahan jaringan distribusi akan menjadi peluang bagi pertumbuhan penjualan,” ujarnya.
Baca Juga
Prospek 2026 Lebih Cerah, Target Harga Saham Mayora (MYOR) Direvisi Naik
Di sisi lain, dalam RUPST Tahun Buku 2025, pemegang saham menyetujui seluruh agenda yang diajukan perseroan, termasuk pengesahan laporan tahunan dan laporan keuangan tahun buku 2025 serta pembagian dividen tunai sebesar Rp 60 per saham. Sepanjang 2025, Mayora membukukan penjualan sebesar Rp 38,68 triliun, naik dari Rp 36,07 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut dicapai di tengah tekanan kenaikan harga kopi dan kakao yang sempat membebani biaya produksi industri makanan dan minuman.
Direktur Mayora Indah Wardhana Atmadja mengatakan, perseroan berhasil menjaga daya saing melalui inovasi produk, peningkatan efisiensi operasional, pengendalian biaya produksi, serta menjaga harga jual tetap kompetitif tanpa mengurangi kualitas produk.
“Harga kopi dan kakao yang mulai menurun pada 2026 memberikan harapan perbaikan margin. Ditambah dengan kontribusi ekspor yang kuat dan pasar tujuan yang beragam, kami optimistis dapat terus tumbuh secara berkelanjutan,” kata ia.

