Tekanan Biaya dan Risiko Regulasi Bayangi Trimegah Bangun (NCKL), Target Laba dan Harga Saham Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Target kinerja keuangan dan saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickle dipangkas, seiring dengan tren penurunan margin keuntungan bersamaan hingga serta ketidakpastian regulasi terkait mekanisme ekspor BUMN.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan, Kamis (4/6/2026) menyebutkan bahwa, target pendapatan NCKL direvisi turun dari Rp 11,99 triliun menjadi Rp 10,72 triliun, meski proyeksi pendapatan direvisi naik dari Rp 30,58 triliun menjadi Rp 32,25 triliun.
Baca Juga
Harita Nickel (NCKL) Percepat Ekspansi Smelter, Volume Penjualan Naik Hingga 46%
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Andhika Audrey mengatakan, pemangkasan proyeksi laba tahun 2026 dan 2027 tersebut mempertimbangkan peningkatan tekanan biaya. Revisi didasarkan pada beberapa faktor. Pertama, penyesuaian volume produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan Sulfate menjadi 129,3 ribu ton pada 2026 atau turun 28,5%, dengan menggantikan kontribusi penuh ONC menjadi porsi hak ekonomi NCKL sebesar 40% pada proyek HPL standalone.
Kedua, kenaikan tarif royalti dari 10% menjadi 14% dan lonjakan harga diesel menyebabkan biaya kas saprolit meningkat 42,2% menjadi US$16,5 per wet metric ton (wmt), sehingga menekan perkiraan EBITDA Harita Nickle (NCKL) menjadi Rp 11 triliun atau turun 8,4%.
Ketiga, keuntungan dari kenaikan nilai cobalt membantu meredam sebagian tekanan biaya. Kredit biaya cobalt pada MHP membuat biaya kas bersih cobalt turun 43,3% menjadi sekitar US$3.900 per ton. Meski menghadapi tekanan biaya, kontribusi tambahan Global Minimum Tax (GMT) di level joint venture seperti ONC dan KPS dinilai tidak material terhadap kinerja grup secara keseluruhan.
Baca Juga
Pengendali NCKL Jual Saham, Harita Jayara Raup Rp1,34 Triliun
Seiring dengan pemangkasan target laba tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target harga saham NCKL dari Rp 1.800 menjadi Rp 1.300 dengan rekomendasi dipertahankan tetap beli. Valuasi tersebut didasarkan pada metode sum of the parts (SOTP) menggunakan discounted cash flow (DCF) untuk setiap segmen proyek dengan weighted average cost of capital (WACC) sebesar 15,9%. Target harga tersebut juga mencerminkan price to earnings ratio (P/E) 2026 sekitar 7,6 kali.
Pemodal juga perlu mencermati sejumlah risiko penekan harga saham NCKL, seperti potensi penurunan harga nikel dari asumsi dasar, berlanjutnya inflasi biaya apabila tarif royalti 14% dipertahankan, kenaikan harga diesel dan sulfur, serta ketidakpastian regulasi terkait mekanisme ekspor BUMN.Adapun sepanjang ytd, harga saham NCKL telah anjlok lebih dari 31% menjadi Rp 820.
Hingga kuartal I-2026, Harita Nickle (NCKL) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp6,8 triliun, turun 5,8% secara kuartalan dan melemah 4,5% dari periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut setara dengan 23% dari proyeksi pendapatan tahun penuh 2026. Meski demikian, laba bersih menjadi Rp 2,7 triliun, naik 8,3% secara kuartalan dan melonjak 63,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

