GIAA dan GMFI Kompak ARA Lima Hari, BEI Minta Penjelasan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan anak usahanya, PT GMF Aero Asia Tbk (GMFI), telah melesat dalam lima hari terakhir. Bahkan, kedua saham tersebut kompat menguat hingga auto reject atas (ARA) dalam kurun waktu tersebut.
Berdasarkan data perdangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (25/8/2024), saham GIAA telah melesat 50% dari Rp 64 menjadi Rp 96 dalam lima hari terakhir. Begitu juga dengan volume transaksi mengalami lonjakan dalam kurun waktu tersebut.
Baca Juga
Kinerja Keuangan Bumi Minerals (BRMS) Diprediksi Luar Biasa, Bagaimana Sahamnya?
Begitu juga dengan saham GMFI telah menguat sebanyak 52,45% dari Rp 61 menjadi Rp 93 dalam lima hari transaksi di bursa. Penguatan tersebut juga diikuti dengan peningkatan volume transaksi saham penerbangan pelat merah tersebut.
Penguatan harga saham GIAA dan GMFI tersebut terjadi setelah ada kabar rencana merger antara Garuda Indonesia Group dengan Pelita Air yang merupakan anak usaha PT Pertamina. Inisiatif merger satu klaster penerbangan ini pertama kali disampaikan Menteri BUMN Erick Thohir saat menjadi pembicara di acara Indonesia Cafetalk dengan tema Indonesia Diaspora Network Bersama Erick Thohir Senin (21/8/2023) kemarin.
Baca Juga
Energi Mega Persada-Pertamina EP Tandatangani MoU Kerja Sama di Blok Buzi
Dia menuturkan, klaterisasi di sektor penerbangan merupakan upaya Kementerian BUMN untuk menekan tingginya biaya logistik di Indonesia. Dengan begitu, beban logistik di dunia bisnis diharapkan ke depan semakin ringan. Sebagai informasi, Citilink sendiri merupakan anak usaha Garuda, sementara Pelita Air merupakan anak usaha Pertamina.
Ditanya Bursa
Usai berita tersebut muncul dan berimbas terhadap lompatan harga saham GIAA dan GMFI, Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan keapda kedua perusahaan tersebut terkait rencana merter tersebut.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra melalui penjelasan resminya di BEI menyebutkan bahwa proses diskusi terkait penjajakan aksi korporasi tersebut masih terus berlangsung intensif.
Baca Juga
RHB Sekuritas: IHSG bisa Rebound, Cermati PWON, TINS, KIJA, dan WIRG
“Oleh karenanya, Garuda Indonesia Group tentunya akan mendukung dan memandang positif upaya wacana merger tersebut yang tentunya akan dilandasi dengan kajian outlook bisnis yang prudent,” papar Irfan dalam keterbukaan informasi dikutip Jumat (25/8/2023).
Irfan menambahkan, isu tersebut menjadi signal positif bagi upaya penguatan fundamental kinerja perusahaan, khususnya pascarestrukturisasi yang terus dioptimalkan melalui berbagai langkah akseleratif transformasi kinerja bersama pelaku industri aviasi Indonesia.

