BRI Danareksa Pangkas Target IHSG 2026 Jadi 7.200, Sebaliknya Saham Ini Tetap Menarik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi 7.200 pada akhir 2026, dibandingkan perkiraan semula 9.440. Pemangkasan target tersebut dipengaruhi faktor MSCI hingga berlanjutnya depresiasi nilai tukar Rupiah.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan, target baru IHSG didasarkan pada proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) 2026-2027 sebesar 13-14%, dengan pertumbuhan sektor perbankan dipangkas menjadi 4%-5% akibat prospek yang lebih berhati-hati.
Sedangkan dalam skenario optimistis (bull case), IHSG berpotensi mencapai level 8.600 dan skenario pesimistis (bear case) berada di level 6.550. “Meski target diturunkan, potensi imbal hasil dari posisi saat ini dinilai masih menarik secara asimetris,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Investor Asing Terus Tinggalkan Indonesia, IHSG Terpangkas 33%
Pemangkasan target IHSG tahun 2026 ini dipicu sejumlah faktor. Di antaranya, meningkatnya tekanan fiskal akibat harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang rata-rata mencapai sekitar US$ 88 per barel hingga April 2026. Angka ini di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel dan melampaui ambang US$ 85 per barel, sehingga berpotensi membuat defisit fiskal menembus batas legal 3%, apabila nilai tukar rupiah melemah di atas Rp16.750 per dolar AS.
Faktor selanjutnya adalah peningkatan ketidakpastian kebijakan. Hal ini terlihat dari revisi outlook Indonesia oleh Fitch pada Maret 2026 dan Moody’s pada Februari 2026 menyoroti isu komunikasi kebijakan, rencana investasi di luar APBN, serta risiko kewajiban kontinjensi pemerintah.
“Sejumlah kebijakan yang sempat muncul namun tertunda, seperti kenaikan royalti pertambangan dan rencana ekspor satu pintu untuk batu bara, CPO, serta ferroalloy, turut memperkuat kekhawatiran investor terhadap prediktabilitas kebijakan,” tulisnya.
Ketiga, tinjauan MSCI pada Mei 2026 turut menjadi faktor penting dalam revisi target IHSG. MSCI menghapus enam saham dari Global Standard Index, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, sementara AMRT dipindahkan ke indeks Small Cap. Perubahan tersebut dipicu oleh perhitungan free float yang lebih ketat melalui aturan pengungkapan kepemilikan pemegang saham di atas 1%.
Baca Juga
Perubahan ini berdampak terhadap aliran keluar dana asing dengan perkiraan mencapai US$ 2,2-2,7 miliar. Namun, dampak yang lebih besar dinilai berasal dari hilangnya premi konglomerasi yang selama ini mendorong kinerja saham-saham afiliasi grup usaha besar sepanjang 2025.
Keempat, berlanjutnya pelemahan rupiah telah memperburuk pasar saham Indonesia. Ekonom BRI menunjukkan depresiasi rupiah sepanjang 2025-2026 lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik terhadap aset Indonesia dibandingkan faktor global. Kondisi ini menambah premi risiko Indonesia di luar faktor harga minyak dan risiko negara berkembang lainnya yang berakibat terhadap valuasi pasar saham domestik menghadapi tekanan lebih besar, dibandingkan negara emerging market lain.
Saham Pilihan
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa strategi penempatan portofolio dibagi dalam dua kelompok utama, yakni saham dengan bantalan valuasi (valuation cushion) dan saham berbasis pertumbuhan (growth call).
Saham pilihan kelompok valuation cushion, yaitu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 10.900 dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dengan target harga Rp3.300.
Sementara itu, kelompok growth call dipilih saham pilihan PT Indosat Tbk (ISAT) yang direkomendasikan beli dengan target harga Rp 3.000, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 4.900, PT Timah Tbk (TINS) Rp 4.500, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp 10.500, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 9.400, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp 5.900.
“Saham-saham tersebut dinilai memiliki equity risk premium yang sebanding dengan IHSG, sehingga relatif menarik dari perspektif risiko,” tulis riset tersebut.
