IHSG Ditutup Menguat 0,72%, Empat Saham Melesat hingga ARA Dipimpin GRIA
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/5/2026), ditutup naik 44,31 poin (0,72%) menjadi 6.206. Kenaikan indeks kali ini ditopang penguatan saham bank besar.
Kenaikan ditopang penguatan saham big bank, seperti BBRI sebanyak 3,93% menjadi Rp 3.170, BBCA menguat 3,39% menjadi Rp 6.100, BMRI menguat 2,43% menjadi Rp 4.220, BBNI naik 2,91% menjadi Rp 3.890, dan BRIS melambung 9,01% menjadi Rp 1.935. Sebaliknya penekan indeks datang dari saham TPIA dan DSSA.
Kenaikan indeks ditopang penguatan pesat saham sektor transportasi 3,82%, sektor properti 0,77%, sektor keuangan 1,42%, sektor konsumer primer 1,09%, sektor industri 0,79%. Sebaliknya saham sektor energi dan material dasar melemah.
Baca Juga
Kejagung Benarkan Periksa Mantan Anggota Ombudsman Yeka Hendra
Adapun saham dengan penguatan harga paling pesat hari ini, yaitu saham cetak auto reject atas (ARA), yaitu GRIA melesat 34,48% menjadi Rp 156, TALF naik 25% menjadi Rp 975, RONY menguat 24,88% menjadi Rp 1.305, dan BBHI menguat 24,84% menjadi Rp 980. Meski tak ARA, LAJU naik 28,33% menjadi Rp 77,
Pekan lalu, IHSG mencatatkan penurunan hebat mencapai 561,27 poin (8,35%) menjadi 6.162,04. Bahkan, IHSG sempat sentuh rekor bawah 5.966. Penurunan tersebut memicu hilangnya kapitalisasi pasar (market cap) Rp 1.190 atau 10,07% menjadi Rp 11.825 hanya dalam lima hari transaksi.
Penurunan hebat tersebuet memicu perubahan daftar top 10 market cap BEI, yaitu teratas BBCA, disusul DCII, BBRI, BMRI, BYAN, BREN, MORA, TLKM, ASII, dan AMMN. Saham TPIA akhirnya terdepak dari daftar.
Baca Juga
Dua Manajer Investasi Ajukan Dokumen ETF Emas ke BEI, Tunggu Tahap Akhir Regulasi KSEI
Penurunan indeks sebanyak 8,35% pekan ini merupakan yang terburuk di dunia, bandingkan dengan negara lain, seperti indeks Hang Seng hanya melemah 1,37% dan indeks FTSE Bursa Malaysia hanya 1,58%. Penurunan dahsyat tersebut menjadikan kapitalisasi pasar turung BEI turun peringkat menjadi nomor dua di Asean setelah Singapura.
Tekanan datang dari kejatuhan seluruh sektor saham dengan pelemahan terbesar disumbangkan saham sektor material dasar melemah 16,31%, sektor energi turun 13,68%, sektor transportasi melemah 19,1%, sektor industry melemah 11,70%, sektor infrastruktur 10,80%, dan sektor konsumer primer 10,20%.

