Bank Syariah Indonesia (BRIS) Calon Kuat Penerima 'The Best Investortrust Companies 2026'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI digadang-gadang menjadi salah satu kandidat kuat penerima penghargaan The Best Investortrust Companies 2026, ajang apresiasi tahunan yang diselenggarakan Investortrust bagi emiten-emiten terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BRIS dinilai mampu menunjukkan kombinasi kuat antara pertumbuhan laba yang konsisten, kualitas aset yang terjaga, ekspansi pembiayaan yang agresif, transformasi digital, serta fundamental keuangan yang solid di tengah dinamika ekonomi global dan ketatnya likuiditas industri perbankan nasional.
Berdasarkan data Investing.com, kapitalisasi pasar BRIS saat ini mencapai sekitar Rp83,5 triliun, bahkan akhir tahun lalu sempat menyentuh Rp101,8 triliun, menjadikannya salah satu emiten sektor perbankan dengan valuasi terbesar di BEI. Saham BRIS juga termasuk aktif diperdagangkan dengan likuiditas tinggi. Ini sejalan dengan salah satu indikator utama penilaian The Best Investortrust Companies 2026.
Baca Juga
Nasabah BSI (BRIS) Tembus 23,7 Juta pada Kuartal I, Laba Naik 22,98%
Dari sisi fundamental, kinerja keuangan BRIS sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang tetap solid. BRIS sukses mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Hal itu tecermin dari perolehan laba bersih yang mencapai Rp7,57 triliun, tumbuh 8% (yoy) dibanding 2024 yang sekitar Rp7,01 triliun
Merujuk laporan keuangan BSI per Desember 2025, naiknya laba bersih turut mendorong laba bersih per saham (earning per share/EPS) BSI dari Rp153,30 per saham menjadi Rp165,71.
Pendapatan setelah distribusi bagi hasil bank berkode saham BRIS ini meningkat 11,94% dari Rp18,57 triliun pada 2024 menjadi Rp20,80 triliun pada 2025. Sejalan dengan itu, dana simpanan wadiah BRIS meningkat dari Rp74,43 triliun menjadi Rp91,10 triliun atau naik 22,40%.
Dana wadiah BRIS terdiri atas giro dan tabungan yang masing-masing mencapai Rp27,79 triliun dan Rp63,31 triliun pada 2025, naik dari tahun sebelumnya masing-masing Rp19,15 triliun dan Rp55,28 triliun.
Kecuali itu, total aset BSI tumbuh 11,64%, dari Rp408,61 triliun per Desember 2024 menjadi Rp456,19 triliun pada periode sama tahun silam. Sedangkan total ekuitas mencapai Rp51,95 triliun pada 2025, tumbuh 15,34% (yoy).
Dari sisi valuasi, price to earnings ratio (PER) BRIS berada di kisaran 13 kali dengan price to book value (PBV) sekitar 1,9 kali. Valuasi tersebut dinilai masih menarik mengingat BRIS memiliki prospek pertumbuhan industri syariah yang tinggi dan posisi dominan di pasar perbankan syariah nasional.
Optimisme pasar terhadap BRIS pun tecermin pada rekomendasi analis. Data Investing.com menunjukkan, mayoritas analis memberikan rekomendasi buy terhadap saham BRIS dengan target harga rata-rata 12 bulan sekitar Rp3.045 per saham, mencerminkan potensi kenaikan signifikan dibanding harga pasar saat ini.
Kecuali kinerja finansial, BRIS dinilai unggul dalam transformasi digital dan pengembangan ekosistem halal nasional. Perseroan aktif memperkuat layanan digital melalui aplikasi BYOND by BSI dan mobile banking yang mendorong pertumbuhan transaksi digital serta efisiensi operasional.
BRIS juga terus memperluas bisnis bullion bank dan layanan emas syariah. Langkah tersebut turut memperkuat posisi perseroan sebagai pemain utama dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah nasional.
Baca Juga
BSI (BRIS) Ungkap Efek Positif Program Pemerintah Terhadap Kinerja Bisnis
Ajang The Best Investortrust Companies 2026 mengusung tema Indonesia's Capital Market Leaders in the Age of Fiscal Discipline, Governance Reform, and Geopolitical Risk. Penilaian dilakukan berdasarkan delapan indikator utama, seperti return saham satu tahun, volatilitas, likuiditas perdagangan, pertumbuhan penjualan dan laba operasi tiga tahun, margin operasional, asset turnover, hingga ROE.
Selain aspek keuangan, penjurian mempertimbangkan tata kelola perusahaan, transparansi, keterbukaan informasi, serta kemampuan emiten menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Dari total 967 emiten di BEI, hanya 279 emiten atau sekitar 28,9% yang lolos tahap awal seleksi. Seleksi kemudian diperketat lagi melalui sejumlah indikator tambahan sehingga hanya 84 emiten yang berhasil melaju ke tahap lanjutan.
Rangkaian penjurian berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026, mulai dari proses nominasi, polling pelaku pasar, wawancara, hingga rapat final dewan juri. Acara puncak penghargaan dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2026.

