Volume Stablecoin Tembus US$33 Triliun, Mulai Tantang Visa dan Mastercard
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Volume transaksi stablecoin global pada 2026 dilaporkan mencapai rekor US$ 33 triliun dan mulai dibandingkan dengan jaringan pembayaran raksasa seperti Visa dan Mastercard. Namun pelaku industri menilai perbandingan tersebut belum sepenuhnya setara karena metodologi pengukuran yang berbeda.
Lonjakan volume stablecoin terutama didorong oleh aktivitas transfer on-chain menggunakan stablecoin seperti USD Coin (USDC) dan Tether (USDT) di berbagai blockchain, termasuk Ethereum, Tron, dan Solana.
Volume transfer stablecoin tersebut mencakup seluruh perpindahan token di jaringan blockchain, mulai dari aktivitas perdagangan kripto, transaksi di protokol decentralized finance (DeFi), hingga transfer antar bursa. Sementara itu, Visa dan Mastercard menghitung volume transaksi berdasarkan pembayaran konsumen dan komersial di merchant maupun transaksi online.
Baca Juga
Perbedaan metodologi tersebut dinilai membuat klaim bahwa stablecoin telah melampaui jaringan kartu pembayaran tradisional menjadi kurang akurat. Sebab, satu dolar stablecoin dapat berpindah berkali-kali dalam sehari melalui berbagai protokol blockchain, sedangkan transaksi kartu kredit umumnya merepresentasikan pembelian konsumen yang terpisah.
Meski demikian, melansir Coinmarketcapnews, Sabtu (16/5/2026), pertumbuhan stablecoin dinilai menunjukkan semakin luasnya penggunaan aset digital dalam sistem keuangan global. Selain mendukung perdagangan kripto, stablecoin mulai dimanfaatkan untuk remitansi lintas negara, pembayaran pekerja jarak jauh, hingga sarana penyimpanan nilai di negara dengan mata uang yang bergejolak.
Perkembangan ekosistem juga terus berlangsung. Coinbase misalnya memperluas kerja sama dengan Hyperliquid untuk mengembangkan perdagangan on-chain berbasis USDC, yang diperkirakan semakin meningkatkan aktivitas transaksi stablecoin.
Di sisi lain, analis menilai stablecoin saat ini masih terbatas pada fungsi transfer dana dan belum sepenuhnya menggantikan ekosistem pembayaran tradisional yang mencakup perlindungan fraud, layanan merchant, chargeback, hingga fasilitas kredit konsumen seperti yang dimiliki Visa dan Mastercard.
Baca Juga
Faktor regulasi juga menjadi perhatian utama. Pembahasan legislasi stablecoin di Kongres Amerika Serikat diperkirakan akan mendorong transparansi lebih besar terkait penggunaan stablecoin, termasuk pemisahan data transaksi pembayaran riil dan aktivitas perdagangan aset digital.
Pelaku pasar kini menunggu apakah penggunaan stablecoin akan semakin bergeser ke transaksi ritel dan pembayaran sehari-hari, atau tetap didominasi aktivitas perdagangan kripto dan penyelesaian transaksi di bursa aset digital.

