Pasar Kripto Memanas Pasca Xi Jinping Singgung Taiwan dalam Pertemuan dengan Trump
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar kripto memanas dan Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah turun menembus level psikologis US$ 80.000. Penurunan harga mayoritas koin kripto terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta meningkatnya kekhawatiran inflasi AS.
Pada perdagangan Kamis (14/5/2026) sore waktu Asia, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 79.200 atau turun 2,3% dalam 24 jam terakhir. Pelemahan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan ke Beijing dan bertemu Presiden China Xi Jinping.
Dalam pertemuan di Balai Agung Rakyat, Xi Jinping menegaskan isu Taiwan menjadi titik paling sensitif dalam hubungan AS-China. Menurut media pemerintah CCTV, Xi menyatakan bahwa jika isu Taiwan tidak ditangani dengan baik maka kedua negara dapat masuk ke situasi yang sangat berbahaya.
Pernyataan tersebut langsung memicu sentimen risk off di pasar global, termasuk aset kripto dan saham Asia.
Baca Juga
Pasar Kripto Bersiap Hadapi Volatilitas, Fokus Tertuju ke Pertemuan Trump-Xi Jinping
Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama juga mengalami koreksi tajam. Solana memimpin penurunan setelah merosot 5,6% ke level US$ 90. Sementara Ethereum turun 2,1% ke US$ 2.250 dan XRP melemah 1,7% ke US$ 1,43. Sedangkan Dogecoin justru mampu menguat 0,25% dalam 24 jam terakhir ke US$ 0,11. Seperti diketahui, Elon Musk yang erat kaitannya dengan Dogecoin tampak hadir mendampingi Trump dalam pertemuan dengan XI Jinping.
Melansir Coindesk, Kamis (14/5/2026) di sisi lain, tekanan terhadap pasar kripto juga datang dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks Harga Produsen (PPI) AS tercatat naik 1,4% secara bulanan, jauh di atas estimasi pasar sebesar 0,5%. Sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga mencapai 3,8%, tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto.
Widget
Powered by Investing.com
Baca Juga
Sentimen Kripto Masih Lemah, Pengembang Ethereum Consensys Tunda IPO
Tekanan juga terlihat di pasar saham Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,1%, sementara saham-saham Tiongkok daratan terkoreksi 1,3% setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2021.
Meski demikian, saham sektor teknologi masih menunjukkan penguatan terbatas. Saham Cisco Systems melonjak 20% dalam perdagangan lanjutan setelah memberikan proyeksi penjualan di atas ekspektasi pasar, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 naik 0,2%.
Pelaku pasar kini mencermati area support Bitcoin berikutnya di level US$ 78.000. Jika level tersebut ditembus, pasar berpotensi masuk ke fase tekanan lanjutan seperti yang terjadi pada akhir April lalu.

