Kinerja Bank Himbara Kuartal I 2026: BRI (BBRI) Cetak Laba Paling Jumbo, BTN (BBTN) Catat Lompatan Tertinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) pada kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid di tengah dinamika ekonomi global. Namun, jika ditelisik lebih dalam, terdapat sejumlah perbedaan dalam laju pertumbuhan dari lima bank pelat merah, khususnya dari sisi laba.
Lima bank anggota Himbara yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) bersaing dari sisi kinerja, tak terkecuali dari pertumbuhan laba.
Dari segi besaran laba untuk kuartal I 2026, BRI menjadi pucuk pimpinan dalam perolehan laba dengan nominal Rp 15,5 triliun. Namun, dalam hal persentase pertumbuhan dipegang oleh BTN dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 22,6% secara year on year (yoy).
Baca Juga
Prabowo Perintahkan Bunga Kredit Bank Himbara Maksimal 5% per Tahun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI
Hingga kuartal I 2026, BRI mencetak laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun atau melesat 13,7% (yoy). Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapan, pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan kredit yang selektif, pengelolaan biaya dana yang semakin efisien, serta kualitas aset yang tetap terjaga sehingga membuat fundamental bisnis BRI tetap kuat di tengah dinamika yang terjadi di industri.
“BRI berhasil mencatatkan laba bersih pada triwulan I 2026 sebesar Rp 15,5 triliun atau tumbuh 13,7% (yoy),” ujarnya, dalam Press Conference Pemaparan Kinerja BRI Triwulan I 2026, secara daring, Kamis (30/4/2026).
Hery mengatakan, hingga triwulan I 2026, bank berkode saham BBRI ini berhasil menyalurkan kredit atau pembiayaan sebesar Rp 1.562 triliun, tumbuh 13,7% dibanding periode yang sama 2025 sebesar Rp 1.374 triliun.
Segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi kontributor terbesar dari portofolio kredit BRI dengan total penyaluran pembiayaan mencapai Rp 1.211 triliun. Jumlah tersebut meningkat 7,55% dibanding triwulan I 2025 yaitu Rp 1.126 triliun.
Untuk kualitas aset, lanjut Hery, loan at risk (LAR) semakin membaik, terlihat dari penurunannya menjadi 9,7% pada triwulan I 2026, dari 11,1% di periode yang sama 2025. Penurunan ini mencerminkan risiko dalam portofolio kredit semakin terkendali, sejalan dengan penguatan manajemen risiko dan kualitas penyaluran kredit yang lebih selektif.
“Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) BRI juga mencatat pertumbuhan yang menggembirakan. Hal ini ditopang oleh dana murah atau CASA (current account and saving account) yang tumbuh semakin bagus dan kuat,” katanya.
Menurut Hery, total DPK BRI mencapai Rp 1.555 triliun pada triwulan I 2026 atau tumbuh 9,4% dibanding periode yang sama 2025. Dari total DPK tersebut, dikontribusi oleh CASA dengan pangsa 68,1%.
“CASA tumbuh signifikan dari Rp 934,9 triliun di triwulan I 2025 menjadi Rp 1.058,6 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 13,2% (yoy),” ucap Hery.
“Secara keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan. Kalau tumbuh saja mungkin gampang, tapi kalau tumbuh dengan sustain dan juga berkualitas itu satu hal yang memang harus dikendalikan dengan baik,” sambungnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Mandiri mencatatkan kinerja keuangan yang apik di awal tahun 2026. Pasalnya, bank berkode saham BMRI ini mengantongi laba secara konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6% (yoy).
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengungkapkan, capaian tersebut salah satunya didorong oleh penyaluran kredit secara bank only sebesar Rp 1.530,16 triliun pada kuartal I 2026.
“Hingga kuartal I tahun 2026, total kredit Bank Mandiri tumbuh 17,4% secara year on year, hampir dua kali lipat secara relatif terhadap pertumbuhan dari industri,” ujarnya, dalam Paparan Kinerja Kuartal I 2026 Bank Mandiri secara daring, Selasa (21/4/2026).
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, lanjut Riduan, kualitas kredit juga tetap terjaga dengan baik, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross bank only yang berada di level 0,98% pada kuartal I 2026.
“NPL Bank Mandiri berada jauh di bawah rata-rata industri perbankan. Hal ini menegaskan komitmen Bank Mandiri dalam mengelola risiko serta mengedepankan kualitas pertumbuhan yang sehat,” katanya.
Dari sisi penghimpunan dana, kata Riduan, total DPK Bank Mandiri tumbuh 21,1% dari Rp 1.383,79 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 1.675,22 triliun di periode yang sama tahun ini.
“Sementara industri tumbuh pada level 13,2%. Hal ini turut menunjukkan bahwa Bank Mandiri mampu menjaga kepercayaan nasabah dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pengelolaan likuiditas yang stabil dan berkelanjutan,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, dari total DPK tersebut ditopang oleh dana murah atau current account and saving account (CASA) yang menggenggam pangsa 71,71%.
“Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan CASA yang solid mencapai sekitar Rp 1.201,25 triliun dan tumbuh 12,7% secara tahunan. Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan strategi funding kami sekaligus memberikan sinyal likuiditas di industri yang semakin membaik dengan struktur dana yang semakin efisien dan stabil,” ujarnya.
Secara keseluruhan, sambung Novita, ia melihat kinerja Bank Mandiri tidak hanya sekadar bertumbuh, tapi tumbuh dengan kualitas yang semakin baik.
“Didukung likuiditas yang kuat, efisiensi yang meningkat, serta permodalan yang solid,” ucapnya.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI
Pada kuartal I 2026, BNI mencetak laba bersih sebesar Rp 5,65 triliun atau tumbuh 4,98% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 5,38 triliun. Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, pertumbuhan laba tersebut salah satunya didorong oleh penyaluran kredit yang meningkat 20,1% (yoy) menjadi Rp 919,3 triliun pada Maret 2026.
“Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (29/4/2026).
Sejalan dengan itu, kualitas kredit bank berkode saham BBNI ini juga masih terjaga dengan baik, dengan rasio NPL yang berada di level 1,9%, LAR 8,6%, serta credit cost di angka 1,1% pada kuartal I 2026.
Hussein menjelaskan, pencapaian DPK yang kuat turut menjadi salah satu penopang kinerja keuangan pihaknya sepanjang kuartal I 2026. Dengan pertumbuhan dana murah atau CASA mencapai 26,80% (yoy) menjadi Rp 731,6 triliun, ditopang oleh pertumbuhan ngiro 39,79% (yoy) damm tabungan yang naik 10,4% (yoy).
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, kinerja positif tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” katanya.
Baca Juga
OJK Sebut Fundamental Perbankan RI Termasuk Himbara Masih Sangat Kuat di Tengah Revisi Outlook
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN
BTN sukses mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026. Hal ini tercermin dari laba bersihnya yang mencapai Rp 1,11 triliun, tumbuh 22,6% (yoy). Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan, pertumbuhan laba tersebut salah satunya didorong oleh penyaluran kredit yang naik 10,3% (yoy) dari Rp 363,11 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 400,63 triliun di periode yang sama tahun ini.
“Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR (kredit pemilikan rumah) Subsidi, BTN merekam telah menyalurkan kredit senilai Rp 193,55 triliun per kuartal I 2026 atau naik 7,7% (yoy),” ujarnya, dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Kuartal I 2026 BTN, di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Kemudian untuk segmen KPR non-subsidi, posisi kredit mencapai Rp 112,56 triliun per kuartal I 2026 atau naik 5,4% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 106,81 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, total DPK BTN tumbuh 9,9%, dari Rp 384,70 triliun di kuartal I 2025 menjadi Rp 422,63 triliun di periode yang sama tahun ini. Dana murah atau CASA BTN juga tumbuh 7,9% (yoy) menjadi Rp 212,11 triliun, menggenggam pangsa 50,2% dari total DPK di kuartal I 2026.
Biaya dana atau cost of fund BTN juga membaik ke level 3,0% di kuartal I 2026, turun dari 4,0% di periode yang sama tahun lalu. Kinerja kredit dan DPK diikuti peningkatan aset sebesar 10,5% menjadi Rp 517,54 triliun per kuartal I 2026 dari Rp 468,53 triliun di periode yang sama 2025.
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BTN Nofry Rony Poetra mengungkapkan, salah satu pendorong utama kenaikan laba berasal dari pertumbuhan net interest income (NII) yang mencapai 13% (yoy).
“Kalau kita ngomongin laba, pasti datangnya kalau bank itu kan dari interest income dibandingkan dengan interest expense. Yang kita sebut dengan net interest income (NII). BTN NII-nya itu naiknya 13%,” ujarnya.
Selain itu, kualitas kredit yang terjaga turut memperkuat kinerja pendapatan bunga. Rasio kredit bermasalah NPL BTN tercatat stabil di level 3,1%.
“NPL pasti akan memengaruhi pendapatan bunga. Kalau orang tidak bayar, kita tidak mendapatkan bunga. Karena NPL-nya kita bisa jaga dengan bagus, kualitas kreditnya bagus, pendapatan bunganya juga jadi stabil, NPL-nya tadi di 3,1%, ini stabil angkanya,” ucap Nofry.
Ke depan, ia optimistis bank berkode saham BBTN ini mampu menjaga konsistensi pertumbuhan laba di kisaran 20% hingga akhir 2026.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI
Kuartal I 2026, dilewati oleh BSI dengan kinerja yang solid. Hal ini terefleksi dari perolehan laba bersihnya yang tumbuh 17,10% secara year on year (yoy) menjadi Rp 2,20 triliun.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan, pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh kenaikan pembiayaan sebesar 14,39% (yoy) menjadi Rp 328,54 triliun di kuartal I 2026.
“Pembiayaan didominasi oleh segmen konsumer. Kami di BSI segmen terbesar konsumer, baru diikuti oleh wholesale dan ritel. Segmen konsumer dan emas ini mencapai Rp 154 triliun atau naik 17,5%,” ujarnya, dalam Press Conference Kinerja Triwulan I 2026 BSI, secara daring, Selasa (14/5/2026).
Sejalan dengan itu, pembiayaan bermasalah BSI juga dapat terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari non performing financing (NPF) gross yang berada di level 1,80% pada kuartal I 2026.
Sementara, BSI juga mencatatkan total dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 376,80 triliun pada kuartal I 2026 atau meningkat 17,99% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 319,34 triliun.
“Pertumbuhan laba ini didukung oleh pertumbuhan DPK dan dana murah yang tertinggi di industri. Ini tentu saja menunjukkan bagaimana kami menyasar segmen generasi muda yang kami edukasi untuk mulai mendaftar haji atau berangkat umrah sejak dini. Inilah salah satu penopang kami dari pertumbuhan DPK,” kata Anggoro.
Dari sisi total aset, BSI mencatatkan pertumbuhan 14,78% dari Rp 400,883 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 460,13 triliun di periode yang sama tahun ini.

