Intip Kinerja Laba Bank-Bank Himbara di 2025, Siapa yang Paling Melesat?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi sorotan sepanjang 2025. Di tengah tantangan likuiditas, tekanan bunga, dan kompetisi dana murah yang semakin sengit, lima bank pelat merah tetap mencatatkan laba jumbo.
Lima bank anggota Himbara yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN), dan yang terbaru PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI bersaing dari sisi kinerja, tak terkecuali pertumbuhan laba.
Seperti diketahui, BSI resmi menyandang status persero usai diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin (22/12/2025). Dalam mata acara pertama, para pemegang saham sepakat untuk merubah anggaran dasar BSI. Berdasarkan ketentuan dalam UU BUMN, yakni adanya hak-hak istimewa Negara Republik Indonesia dalam kepemilikan Saham Seri A Dwiwarna di BSI, menyebabkan status bank itu terkategori sebagai BUMN.
Adapun dari sisi besaran laba untuk tahun 2025, seperti biasa laba terbesar dimiliki oleh BRI dengan jumlah Rp 57,13 triliun. Namun dalam hal persentase pertumbuhan laba dipegang oleh BTN dengan mencatat pertumbuhan laba bersih secara konsolidasi sebesar 16,4%, dari Rp 3 triliun di 2024 menjadi Rp 3,5 triliun di tahun lalu.
Berikut performa kinerja Bank Himbara di 2025:
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI
Sepanjang 2025, BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,13 triliun. Capaian tersebut tumbuh negatif 5,27% jika dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 60,31 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan, torehan laba bersih tersebut didorong oleh perbaikan fundamental kinerja perseroan. Buktinya, pertumbuhan aset dan kredit tetap solid, struktur pendanaan semakin efisien, serta kualitas aset yang semakin membaik.
“Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. Hingga akhir kuartal IV 2025, BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 57,13 triliun,” ujarnya, dalam Press Conference Paparan Kinerja Keuangan Triwulan IV 2025 BRI secara daring, Kamis (26/2/2026).
Dari sisi penyaluran kredit, bank berkode saham BBRI ini mencatatkan pertumbuhan kredit 12,3% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.521,49 triliun pada 2025. Hal ini dibarengi dengan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) gross dan net yang masing-masing terjaga di level 3,29% dan 0,96%.
Tahun lalu, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun BRI mencapai Rp 1.466,84 triliun pada 2025, tumbuh 7,42% dibanding 2024 yaitu Rp 1.365,45 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh penguatan dana murah atau current account and saving account (CASA).
Baca Juga
Bantah Menhan, Bos Danantara: Belum Ada Rencana Perombakan Direksi Bank Himbara
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Menutup tahun 2025, Bank Mandiri mencatatkan kinerja yang apik. Pasalnya, bank berkode saham BMRI ini mengantongi laba bersih konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun sepanjang 2025. Jumlah tersebut naik 0,93% secara year on year (yoy).
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengungkapkan, kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih senilai Rp 106 triliun dengan tren positif seiring pengelolaan aset produktif dan struktur pendanaan yang tetap solid.
Kredit yang disalurkan perseroan mencapai Rp 1.895 triliun pada 2025 atau meningkat 13,4% (yoy). Realisasi kredit tersebut didorong pertumbuhan yang merata di semua segmen bisnis. Misalnya kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tumbuh 4,88% (yoy), di saat kredit UMKM secara industri melambat.
“Kami terus mendorong pembiayaan yang selektif dan terukur di seluruh segmen, dengan fokus pada sektor produktif yang mendorong ekonomi kerakyatan dan perluasan lapangan kerja,” ujarnya, dalam Paparan Kinerja Kuartal IV 2025 Bank Mandiri secara daring, Kamis (5/2/2026).
Dari sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp 1.635,5 triliun di akhir 2025 atau tumbuh 17,29% (yoy). Dari jumlah tersebut, porsi CASA masih mendominasi dengan pangsa 73%.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI
BNI mencatatkan laba bersih Rp 20,04 triliun sepanjang 2025, atau tumbuh negatif 6,63% dibanding 2024 yaitu Rp 21,46 triliun. Dari sisi penyaluran kredit, bank berkode saham BBTN ini mencatatkan pertumbuhan kredit 15,9% (yoy).
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis pihaknya yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun, BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (3/2/2026).
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN
BTN mencatat pertumbuhan laba bersih secara konsolidasi sebesar 16,4%, dari Rp 3 triliun di 2024 menjadi Rp 3,5 triliun di tahun lalu. Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh kenaikan kredit.
“BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Tahun 2025 BTN, di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Pertumbuhan tersebut, lanjut dia, salah satunya ditopang oleh penyaluran kredit konsolidasian yang tumbuh 11,9%, dari Rp 358,9 triliun pada 2024 menjadi Rp 400,6 triliun di tahun lalu. Dengan mayoritasnya disalurkan ke sektor perumahan sebesar Rp 328,4 triliun pada 2025, tumbuh 7,5% dibanding 2024 yaitu Rp 305,6 triliun.
Sejalan dengan itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross BTN menurun ke level 3,1% di 2025, dari sebelumnya 3,2% di 2024. Untuk memperbaiki struktur risiko, BTN meningkatkan pencadangan atau NPL coverage menjadi 123,9% di 2025, naik 856 bps dari tahun sebelumnya 115,4%. “BTN memproyeksikan NPL dapat menurun hingga di bawah 3,0% pada akhir tahun 2026 sejalan dengan membaiknya kualitas kredit,” kata Nixon.
Total DPK yang dihimpun BTN secara konsolidasi tumbuh 14,6% (yoy) menjadi Rp 437,4 triliun pada 2025. Pertumbuhan tersebut didorong akselerasi transaksi digital.
Baca Juga
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencetak laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp7,96 triliun sepanjang 2025. Perolehan laba itu naik 8,01% secara tahunan (yoy) dari sebesar Rp 7 triliun pada 2025.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kinerja aset dan dana pihak ketiga yang solid. Hingga akhir 2025, total aset BSI mencapai Rp 456 triliun atau tumbuh 11,64% dibandingkan tahun sebelumnya. “Laba ini penting karena tahun ini kita mampu tumbuh positif sekitar 8%,” ujar Anggoro dalam konferensi pers daring, Jumat (6/2/2026).
Dari sisi penghimpunan dana, BSI mencatat dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 380 triliun, meningkat 16,20% secara tahunan. Pada fungsi intermediasi, bank syariah terbesar RI itu tercatat telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp318,22 triliun, meningkat 14,5% yoy sepanjang tahun lalu.

