Bitcoin Jatuh ke US$ 79.000, Sinyal Bahaya atau Peluang Beli?
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin berada di bawah tekanan setelah mencatat pelemahan di bawah US$ 80.000 tepatnya di US$ 79.000 pada Jumat (8/5/2026). Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya risiko geopolitik global setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.
Tekanan tersebut memicu aksi jual di berbagai aset berisiko, termasuk kripto. Pergerakan Bitcoin kali ini dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor makro dan geopolitik, bukan semata-mata persoalan fundamental aset kripto itu sendiri. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin menunjukkan korelasi kuat dengan indeks S&P 500 sebesar 76% dan emas sebesar 59%, menandakan bahwa pasar sedang bergerak mengikuti sentimen global.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan pelemahan Bitcoin saat ini terjadi karena investor global sedang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
"Penurunan Bitcoin ke area US$ 79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto,” ujar Fyqieh dalam siaran pers, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga
Bitcoin Cetak Harga Tertinggi Tiga Bulan, Pasar Masuk Fase Baru
Menurut Fyqieh, tekanan terhadap Bitcoin juga diperbesar oleh likuidasi posisi long yang menggunakan leverage tinggi. Dalam 24 jam terakhir, sekitar US$ 97,53 juta posisi Bitcoin terlikuidasi, dengan mayoritas berasal dari posisi long. Di saat yang sama, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat juga mencatat net outflow sekitar US$ 268,5 juta pada 8 Mei 2026.
“Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual,” jelas Fyqieh.
Secara teknikal, Bitcoin sebelumnya gagal menembus area resistance US$ 82.800. Saat ini, area support terdekat berada di kisaran US$ 78.500 hingga US$ 78.000. Jika level tersebut mampu dipertahankan, Bitcoin masih berpeluang rebound kembali menuju US$82.800. Namun, jika harga ditutup harian di bawah US$ 78.000, risiko koreksi lebih dalam menuju US$ 76.300 akan semakin terbuka.
“Area US$ 78.500 sampai US$ 78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke US$ 82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area US$ 76.300,” kata Fyqieh.
Meski tekanan jangka pendek masih cukup besar, Tokocrypto menilai struktur pasar Bitcoin belum sepenuhnya berubah menjadi bearish. Dalam beberapa bulan terakhir, aliran dana institusional ke pasar kripto masih menunjukkan tren yang kuat. Pada April 2026, net inflow keETF Bitcoin spot Amerika Serikat mencapai US$ 2,44 miliar, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Secara kumulatif sejak 2024, total inflow ETF Bitcoin spot telah mencapai US$ 58,5 miliar, dengan total aset kelolaan sekitar US$ 102 miliar.
BlackRock’s IBIT masih menjadi pemimpin pasar dengan kepemilikan sekitar 812.000 BTC atau setara US$ 62 miliar. Sementara itu, Morgan Stanley’s MSBT yang baru diluncurkan pada April 2026 berhasil menarik dana sekitar US$ 163 juta hanya dalam enam hari pertama.
Dari sisi on chain, sinyal akumulasi juga masih terlihat. Wallet dengan kepemilikan lebih dari 1.000 BTC tercatat mengakumulasi sekitar 270.000 BTC dalam 30 hari terakhir, yang menjadi akumulasi bulanan terbesar sejak 2013.
Baca Juga
Bitcoin Pizza Day hingga Upgrade Solana, Simak Sentimen yang Gerakkan Pasar Kripto Bulan Ini
Cadangan Bitcoin di exchange juga turun ke level terendah dalam tujuh tahun, yang biasanya mengindikasikan investor lebih memilih menyimpan aset daripada menjualnya.
“Kalau melihat data yang lebih luas, minat institusi terhadap Bitcoin sebenarnya belum hilang. ETF masih menjadi indikator penting, sementara data on chain menunjukkan akumulasi oleh wallet besar masih berlangsung. Jadi, tekanan saat ini lebih mencerminkan reaksi jangka pendek terhadap risiko global, bukan hilangnya keyakinan terhadap Bitcoin,” ujar Fyqieh.
Ke depan, pasar juga masih mencermati sejumlah katalis penting, termasuk perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, data aliran dana ETF mingguan, serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, rencana pembahasan regulasi kripto di Amerika Serikat, termasuk Digital Asset Market Clarity Act atau CLARITY yang dijadwalkan masuk agenda pemungutan suara Senat pada Juni 2026, juga berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar.
Fyqieh menilai regulasi yang lebih jelas dapat membuka ruang partisipasi institusional yang lebih besar di pasar kripto.
“Kejelasan regulasi akan menjadi salah satu katalis penting untuk pasar kripto. Jika aturan semakin jelas, investor institusi akan lebih percaya diri masuk ke aset digital karena risiko regulasi menjadi lebih terukur,” tambahnya.
Untuk proyeksi jangka pendek, Tokocrypto melihat Bitcoin perlu kembali menembus dan bertahan di atas US$ 82.000 untuk membuka peluang penguatan lanjutan. Jika momentum membaik, target teknikal berikutnya berada di kisaran US$ 90.000 hingga US$ 98.000. Namun, pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jika tekanan geopolitik meningkat atau The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari perkiraan.
“Bitcoin mulai menunjukkan struktur pasar yang lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu, tetapi belum masuk fase aman sepenuhnya. Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global," ucap Fyqieh.
Berdasarkan data Coinmarketcap, Jumat (8/5/2026) harga Bitcoin nampak tengah berada di US$ 79.795 usai melemah 1.36% dalam 24 jam terakhir.

