Ekonomi RI Belum Capai Target, Indef: Sinyal Bahaya Ketergantungan terhadap Global
JAKARTA, investortrust.id - Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2024 sebesar 5,11%, belum mencapai target pemerintah sebesar 5,2% tahun ini. Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, sesuai dengan prediksi sejumlah lembaga asing dan domestik yang meramalkan pertumbuhan ekonomi di 2024 cenderung lesu.
Esther mengatakan stabilitas perekonomian Indonesia tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang tengah berkembang. Sejumlah situasi yang menjadi sentimen ketidakstabilan global seperti fenomena El Nino, dampak Covid-19 yang belum sepenuhnya pulih hingga meningkatnya tensi geopolitik turut berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.
"Semakin tergantung pada kondisi global, ketika ada gonjang ganjing maka akan berpengaruh pada ekonomi kita," kata Esther dalam diskusi daring, Selasa (7/5/2024).
Baca Juga
Ia mengkhawatirkan situasi yang tengah berkembang justru berdampak terhadap meningkatnya beban impor pemerintah. Hal tersebut tidak lepas dari kondisi perekonomian dalam negeri yang masih memiliki ketergantungan atas kebijakan impor hingga situasi global.
"Contohnya saat ini ekonomi Amerika Serikat sangat ekspansif, sehingga tingkat suku bunga ditingkatkan terus, kebijakan ini diikuti oleh BI," ungkap Esther.
Disebut Esther, Bank Indonesia (BI) terpaksa melakukan pendekatan Fed Monetary Policy, di mana menaikkan suku bunga acuan untuk meningkatkan jumlah uang beredar di tengah masyarakat.
Namun di sisi lain, ia turut menyorot kapasitas fiskal yang terbilang kian menyempit. Hal itu dibuktikan dengan rasio utang terhadap PDB yang mencapai 38% dan tax ratio yang hanya 10,31%.
Baca Juga
Ekonomi: Pertumbuhan Ekonomi 5,11% Sulit Dicapai pada Kuartal Selanjutnya
"Ditambah lagi realisasi program pemerintah yang membutuhkan dana fantastis," sebutnya.
Dengan kondisi demikian, ia melihat hal tersebut memaksa pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan cukai. Untuk menghindari ancaman pertumbuhan yang melambat, ia menyampaikan pemerintah harus mengulangi ketergantungan impor.
"Dilakukan jug pengetatan kebijakan moneter disertai pengetatan kebijakan fiskal," ucapnya.

