IHSG Ditutup Anjlok 105 Poin, Tapi Saham KICI dan MITI Tetap ARA
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (15/3/2024), ditutup tejerembab 105,27 poin (1,42%) menjadi 7.328,05. IHSG bergerak dalam rentang 7.308,04-7.440,79 dengan nilai transaksi Rp 16,24 triliun.
Penurunan dalam tersebut mematahkan lompatan IHSG dalam empat hari terakhir hingga mencapai level tertingi baru sepanjang masa (all time high/ATH) yang ditorehkan hingga kemarin.
Penurunan indeks dipengaruhi koreksi sebagian besar sektor saham, khususnya saham sektor keuangan dengan penurunan 1,96%. Penurunan juga melanda saham sektor material dasar 1,82%, sektor infrastruktur 0,96%, sektor energi 0,86%, sektor consumer primer 0,67%, dan sektor industry 0,61%.
Sebaliknya penguatan penguatan melanda saham sektor transportasi 1,47%, sektor teknologi 0,37%, dan sektor kesehatan 0,07%.
Meski IHSG anjlok jelang akhir pekan ini, kedua saham ini justru berhasil torehkan penguatan harga hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) naik Rp 55 (34,59%) menjaedi Rp 214 dan PT Mitra Investindo Tbk (MITI) melesat hingga auto reject atas (ARA) naik Rp 52 (33,77%) menjadi Rp 206.
Penguatan juga melanda saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) naik Rp 90 (20,93%) menjadi Rp 520, PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) melesat Rp 48 (19,05%) menjadi Rp 300, dan PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) menguat Rp 210 (12,21%) menjadi Rp 1.930.
Sebaliknya pelemahan melanda beberapa saham beriktu, yaitu saham PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE), PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA), dan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF).
Kemarin, IHSG kembali ditutup menguat 12,11 poin (0,16%) ke level tertinggi baru (all time high/ATH) 7.433,32. Pemodal asing kembali cetak pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 1,92 triliun di seluruh pasar.
Net buy terbanyak melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 543,25 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 469,29 miliar, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp 208,68 miliar.

