Astra Agro (AALI) Cetak Kenaikan Laba 34,8%, Efisiensi Jadi Penopang Utama
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berhasil pertahankan kinerja solid pada kuartal I-2026 dengan pendapatan mencapai Rp 7,5 triliun dan laba bersih sebesar Rp 373 miliar. Pendapatan dan laba bersih menunjukkan peningkatan secara year-on-year (YoY) sebesar 6,8% dan 34,8%.
Kenaikan kinerja tersebut ditopang oleh efisiensi operasional di seluruh lini usaha serta pengendalian biaya dan belanja Perseroan. Hal ini tercermin dari kenaikan net profit margin (NPM) menjadi 5% pada kuartal I-2026, dibandingkan peridoe sama tahun lalu sebesar 3,9%.
Baca Juga
Astra Agro (AALI) Dongkrak Capex 79% di 2026, Fokus Aksi Ini
Direktur Astra Agro (AALI) Tingning Sukowignjo menyampaikan bahwa capaian positif ini tidak lepas dari kolaborasi dan dukungan kuat para pemangku kepentingan dalam menjaga ketahanan operasional dan finansial Perseroan.
“Pencapaian saat ini berkat dukungan berkelanjutan dari para stakeholders. Terima kasih atas kepercayaan dan dedikasi seluruh pihak yang senantiasa mendampingi perjalanan Astra Agro. Mari terus memperkuat kolaborasi ini demi mewujudkan pertumbuhan yang saling membawa manfaat ke depan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (27/4/2026).
Pertumbuhan kinerja keuangan tersebut juga sejalan dengan peningkatan volume penjualan crude palm oil (CPO) dan turunannya yang naik 6,3% YoY, serta penjualan kernel dan derivatif yang meningkat 9,8% YoY.
Baca Juga
Pendapatan Astra Agro (AALI) Melesat 31,36%, Laba Capai Segini
Ke depan, manajemen AALI menilai, harga CPO masih cukup positif sepanjang tahun, seiring kondisi permintaan dan kebutuhan yang relatif stabil. Meski demikian, faktor cuaca dan usia tanaman tetap menjadi tantangan utama yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan produksi.
Guna menjaga kinerja hingga akhir tahun, Astra Agro menyiapkan perencanaan yang matang dan alokasi biaya yang tepat sasaran tanpa mengurangi kualitas operasional. Strategi ini diharapkan dapat menjaga daya saing biaya produksi sekaligus mengantisipasi volatilitas harga CPO dan dinamika geopolitik.
Hingga akhir 2025, Perseroan mengelola perkebunan kelapa sawit seluas 280.325 hektare yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Perseroan juga didukung oleh 32 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas 1.655 ton tandan buah segar (TBS) per jam, serta dua pabrik penyulingan CPO dengan kapasitas 3.000 ton per hari.

