Faktor Ini Pemicu IHSG Terjun 1,27% di Sesi I
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi pada perdagangan Kamis (23/4/2026), dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan pasar. Berdasarkan data BEI, pada sesi I perdagangan, IHSG ditutup melemah 95,64 poin atau 1,27% ke level 7.445.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai tekanan utama berasal dari kondisi global yang cenderung risk-off di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta ekspektasi arah kebijakan moneter.
Baca Juga
Rupiah Anjlok ke Rp 17.300 per Dolar AS, Airlangga: BI Bertugas Jaga Stabilitas
“Selain itu, pelaku pasar juga cenderung wait and see menjelang pengumuman kebijakan The Federal Reserve pada 28–29 April,” ujar Elandry, Kamis (23/4/2026).
Ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun turut meningkatkan kekhawatiran pasar. Kondisi ini memberi sinyal likuiditas global akan tetap ketat lebih lama, sehingga investor mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan persepsi risiko makro. Depresiasi rupiah dinilai berpotensi menekan kinerja emiten, khususnya yang memiliki eksposur impor atau utang dalam valuta asing.
Baca Juga
Rosan Sebut Sudah Ada Solusi soal Restrukturisasi Utang Whoosh
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.11 WIB, rupiah melemah 0,61% ke level Rp17.286 per dolar AS, seiring tekanan dari ketegangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter dunia. “Kondisi ini sering kali mempercepat arus keluar dana asing, yang kemudian berdampak langsung pada penurunan indeks,” kata Elandry.
Selain faktor eksternal, aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan sebelumnya juga memperdalam koreksi IHSG. Dalam kondisi pasar yang sensitif, sentimen negatif dapat memicu tekanan jual yang lebih besar.
Senada, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyebut pelemahan IHSG juga dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun dari 6,58% menjadi 6,68%.
Baca Juga
IHSG Mendadak Terjun 1,27% ke Bawah 7.500, Saham Tekanan Datang dari BREN dan DSSA
Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari capital flight di pasar obligasi serta penurunan outlook pertumbuhan ekonomi global oleh lembaga seperti Bank Indonesia ke level 3%.
“Hal ini mendorong penyesuaian portofolio investor, di mana aset berisiko seperti saham dan obligasi cenderung dikurangi dan dialihkan ke instrumen defensif seperti deposito atau money market,” ujar Ahmad Faris.
Secara keseluruhan, pelemahan IHSG mencerminkan kombinasi tekanan global, kebijakan suku bunga, pergerakan nilai tukar, serta dinamika arus dana investor di pasar keuangan.

