Penerbitan Surat Utang Korporasi Kuartal I-2026 Naik 27,08% Jadi Rp 59,35 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penerbitan surat utang korporasi pada kuartal I-2026 tercatat meningkat signifikan dan melampaui nilai jatuh tempo. Total penerbitan mencapai Rp 59,35 triliun atau naik 27,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 46,7 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto mengungkapkan, tingginya realisasi penerbitan ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang kondusif, khususnya tingkat imbal hasil (yield) yang relatif rendah pada dua bulan pertama tahun ini.
“Perusahaan banyak memanfaatkan yield yang masih rendah untuk meraih pendanaan di pasar surat utang,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers secara daring, Rabu (15/4/2026).
Nilai penerbitan tersebut juga jauh melampaui total jatuh tempo surat utang korporasi sepanjang kuartal I-2026 yang sebesar Rp 26,88 triliun. Kondisi ini mencerminkan tingginya minat korporasi untuk menghimpun dana melalui instrumen pasar modal dibandingkan sumber pendanaan lain.
Suhindarto menjelaskan, biaya dana yang ditawarkan melalui penerbitan surat utang dinilai lebih kompetitif dibandingkan pinjaman perbankan. Hal ini dipengaruhi oleh suku bunga kredit (average lending rate) yang masih relatif kaku untuk turun.
Dari sisi tenor, tren penerbitan masih didominasi oleh jangka menengah hingga panjang. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, tenor 5 tahun menjadi yang paling banyak diterbitkan, diikuti tenor 1 tahun dan 3 tahun. Selain itu, tenor 7 tahun juga menunjukkan peningkatan signifikan, melanjutkan tren sejak 2025.
Dari segi kualitas kredit, emiten dengan peringkat AAA masih mendominasi pasar. Peringkat single A menyusul sebagai pilihan menarik karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang masih terukur, diikuti oleh peringkat AA. Sementara itu, belum terdapat penerbitan dari emiten berperingkat BBB sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Berdasarkan jenis penerbit, emiten swasta masih mendominasi dengan total penerbitan mencapai Rp 39,3 triliun. Adapun sisanya sekitar Rp 20 triliun berasal dari BUMN dan entitas yang terafiliasi dengan pemerintah.
Dilihat dari tujuan penggunaan dana, sebagian besar penerbitan ditujukan untuk modal kerja dengan nilai mencapai Rp 30,91 triliun. Selanjutnya diikuti untuk kebutuhan investasi, serta refinancing yang justru mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara instrumen, obligasi dan sukuk masih menjadi kontributor utama dengan total Rp 52,4 triliun, meningkat dibandingkan Rp 46,4 triliun pada kuartal I-2025. Sementara itu, penerbitan Medium Term Notes (MTN) melonjak signifikan menjadi Rp 7 triliun dari sebelumnya sekitar Rp 400 miliar.
Dari sisi sektor, industri pembiayaan konsumtif seperti multifinance menjadi penyumbang terbesar penerbitan secara nasional. Disusul oleh perusahaan induk, termasuk kontribusi signifikan dari Danantara sekitar Rp 7 triliun, serta sektor perbankan.
Sementara itu, sektor kehutanan, pulp dan kertas, serta entitas layanan publik juga masuk dalam lima besar penerbit terbesar.
Berdasarkan pemeringkatan Pefindo, sektor kehutanan, pulp, dan kertas mencatat nilai penerbitan tertinggi sebesar Rp 8,2 triliun, diikuti perbankan Rp 7,7 triliun, dan multifinance Rp 7,3 triliun.
Meski kinerja kuartal pertama cukup positif, Suhindarto mengingatkan adanya potensi risiko ke depan. Kenaikan yield mulai terjadi pada Maret 2026 akibat dinamika global, termasuk konflik geopolitik yang berpotensi meningkatkan biaya dana di pasar surat utang korporasi.
“Ke depan, yield yang meningkat bisa membuat biaya penerbitan surat utang ikut terangkat,” pungkasnya.
