Ketegangan Geopolitik Global Hantui Ekonomi RI, 64 Ahli Prediksi Inflasi Bakal Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Ketegangan geopolitik global yang belum mereda kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga di dalam negeri. Berdasarkan hasil survei terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), sebanyak 64 dari 85 ahli ekonomi meyakini bahwa tekanan inflasi di Indonesia akan semakin meningkat dalam waktu dekat.
Para pakar mengaitkan prospek negatif ini dengan gangguan rantai pasok global dan gejolak pasar energi dunia yang mulai merembet ke tingkat harga domestik.
Sentimen pesimisme ini terekam dalam survei yang digelar pada 24 Februari hingga 9 Maret 2026. Dalam laporan tersebut, para ahli menyoroti bagaimana konflik internasional memicu ketidakpastian yang menekan ekonomi nasional. Dampaknya mulai terasa pada persepsi kondisi ekonomi secara umum, di mana 48 persen atau 41 ahli menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh memburuk dibandingkan dengan kuartal IV-2025. Sebaliknya, hanya 14 persen responden yang masih melihat adanya tanda-tanda perbaikan.
“Kecenderungan ini menyisakan hanya 12 (ahli) atau 14% yang menilai kondisi saat ini sebagai membaik,” kata tim peneliti LPEM UI, dikutip Senin (16/3/2026).
Selain ancaman inflasi, iklim usaha di tanah air juga mendapat sorotan tajam. Sebanyak 45 persen responden menyatakan bahwa lingkungan bisnis saat ini lebih buruk dibandingkan tiga bulan lalu.
Kondisi ini diperparah dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan akan stagnan. Sebagian besar ahli melihat laju pertumbuhan tiga bulan ke depan tidak akan mengalami perubahan berarti dari angka terkini, mencerminkan rendahnya kepercayaan terhadap akselerasi ekonomi di tengah situasi global yang tidak menentu.
Laporan LPEM UI juga mengungkapkan keraguan para pakar terhadap efektivitas kebijakan fiskal pemerintah. Sebanyak 52 dari 85 responden memberikan penilaian negatif, dengan rincian 18 responden menilai kebijakan fiskal sangat tidak efektif dan 34 lainnya menilai tidak efektif. Meski terdapat sedikit pergeseran persepsi yang lebih positif dibandingkan periode survei sebelumnya, secara keseluruhan para ahli masih belum meyakini bahwa instrumen fiskal yang ada saat ini mampu menjadi bantalan yang kuat untuk mendukung stabilitas ekonomi.

