Euforia Semu Hantui Pasar Global, Analis Ingatkan Bahaya Ini
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar keuangan global dinilai tengah mengabaikan ancaman besar dari lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, dengan risiko dunia “sleepwalking” menuju resesi.
Sleepwalking (tidur berjalan) dalam dunia kesehatan disebut somnambulism atau parasomnia, yang terjadi tanpa disadari.
Amrita Sen, pendiri dan direktur riset Energy Aspects, menilai optimisme investor saat ini tidak sejalan dengan realitas pasar energi.
Indeks S&P 500 sempat mencetak rekor intraday di level 7.230,12 pada 1 Mei, meskipun harga minyak telah melonjak lebih dari 50% sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari.
Baca Juga
Optimisme Dongkrak Wall Street: Dow Melesat Hampir 800 Poin, S&P 500 Cetak Rekor Baru di Atas 7.200
“Ini menjadi teka-teki terbesar kami. Harga minyak seharusnya lebih tinggi dan pasar saham jauh lebih lemah,” ujar Sen, pada acara ‘Squawk Box Europe’ CNBC.
Ia memperingatkan bahwa pasar saat ini menunjukkan “euforia yang sangat keliru,” dengan banyak investor menganggap krisis energi hanya berdampak pada Asia, bukan ekonomi global secara luas.
Organisasi OPEC memang berjanji meningkatkan produksi, namun menurut Sen, tambahan pasokan tersebut masih bersifat simbolis dan belum cukup menggantikan gangguan suplai.
Fokus utama pasar kini tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global. Jika gangguan berlangsung lama, dunia dipaksa menurunkan konsumsi hingga setara dengan level 2013—sekitar 10 juta barel per hari lebih rendah dari saat ini.
Ke depan, Sen memperkirakan harga minyak akan memiliki “lantai baru” di kisaran US$80–90 per barel, dengan dampak luas ke berbagai sektor, termasuk LNG, kimia, dan pupuk.
Ia juga memperingatkan lonjakan harga pangan sebagai efek lanjutan dari terbatasnya pasokan gas alam dan terganggunya distribusi pupuk seperti urea.
Baca Juga
AS Bantah Kapal Perangnya Diserang, Iran Hantam UEA, Selat Hormuz Memanas
“Ini adalah krisis energi besar-besaran. Saya terkejut pasar saham justru mengabaikannya dan fokus pada kinerja kuartal pertama. Kinerja kuartal kedua tidak akan sekuat itu,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Jens Eisenschmidt dari Morgan Stanley, yang melihat tekanan mulai menyebar ke berbagai sektor, mulai dari maskapai hingga manufaktur.
Ia memperingatkan bahwa dunia mendekati “hari penghakiman” pasar, dengan risiko inflasi yang semakin mengakar jika konflik tidak segera mereda.

