Kekhawatiran Inflasi dan Krisis Energi Hantui Pasar, Yield Treasury AS Naik Tajam
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Imbal hasil Treasury AS melonjak. Kenaikan tajam yield surat utang pemerintah AS itu menjadi sinyal bahwa pasar global tengah memasuki fase ketidakpastian baru, meningkatnya risiko inflasi dan geopolitik.
Baca Juga
Iran-Israel Tetap Saling Serang di Tengah Ketidakpastian, Harga Minyak Tembus US$100
Imbal hasil obligasi tenor pendek, khususnya 2 tahun, melonjak lebih dari 9 basis poin ke level 3,925% pada Selasa (24/3/2026), setelah lelang surat utang senilai US$69 miliar mencatatkan permintaan yang mengecewakan. Rasio bid-to-cover hanya berada di 2,44—terendah sejak Mei 2024—menandakan minat investor mulai melemah di tengah meningkatnya risiko makro.
Fenomena ini mencerminkan perubahan fokus pasar. Jika sebelumnya kekhawatiran resesi mendominasi, kini inflasi menjadi musuh utama, terutama setelah harga energi kembali merangkak naik.
“Pasar saat ini lebih memprioritaskan risiko inflasi dibanding pertumbuhan. Dengan konflik Iran yang belum mereda, potensi kenaikan harga minyak tetap tinggi, sehingga yield cenderung bergerak naik,” ujar Lawrence Gillum dari LPL Financial, seperti dikutip CNBC.
Kenaikan yield juga merambat ke tenor yang lebih panjang. Imbal hasil US Treasury 10-year naik ke 4,392%, sementara US Treasury 30-year menyentuh 4,956%. Lonjakan ini mempertegas tekanan yang merata di seluruh kurva obligasi AS.
Di balik pergerakan ini, faktor energi menjadi kunci. Harga minyak yang sempat terkoreksi tajam kembali rebound, seiring memudarnya optimisme pasar terhadap potensi deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai adanya pembicaraan damai dengan Iran sempat meredakan pasar. Namun, bantahan dari Teheran segera membalikkan sentimen, memicu reli harga minyak dan tekanan baru di pasar obligasi.
“Risiko utama tetap tinggi karena perang berlangsung tanpa jalur keluar yang jelas,” tulis Ian Lyngen dari BMO. Ia menegaskan bahwa arah suku bunga AS dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada pergerakan harga energi.
Situasi ini menempatkan pasar dalam posisi rapuh. Setiap perkembangan kecil di Timur Tengah kini langsung tercermin pada volatilitas harga minyak dan yield obligasi.
Baca Juga
Ketidakpastian yang dipicu oleh pernyataan yang saling bertentangan antara Washington dan Teheran semakin memperkeruh arah pasar. Dukungan terhadap obligasi yang sempat muncul akibat turunnya harga minyak kini kembali memudar.
Bagi investor global, kombinasi inflasi yang berpotensi kembali meningkat dan konflik geopolitik yang belum menemukan titik terang menjadi sinyal bahwa volatilitas belum akan mereda dalam waktu dekat.

