Kemenkeu Optimistis Jaga Spread SBN Tetap Rendah Meski Ada Konflik Teluk Persia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Keuangan optmistis dapat menjaga spread Surat Berharga Negara (SBN) dengan US Treasury 10 tahun di tengah situasi yang memanas di Teluk Persia. Konflik sempat menaikkan imbal hasil obligasi negara lebih tinggi di tengah permintaan terhadap aset aman.
“Sebagaimana kita lihat, pergerakan yield SBN juga cukup moderat, terkendali, dan kita jaga volatilitasnya. Levelnya pada saat ini juga masih pada level yang cukup baik," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Suminto, saat paparan APBN KiTa edisi Maret 2026, di kantornya, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Suminto mengakui bahwa dinamika global saat ini memang memberikan tekanan pada pergerakan imbal hasil SBN.
Suminto menjelaskan pasar obligasi domestik murni merupakan imbas dari sentimen eksternal, yang juga dialami oleh negara-negara lain. Akan tetapi, dibandingkan dengan negara-negara peers kinerja pasar SBN Indonesia pascaledakan konflik Israel-AS dan Iran terhitung masih sangat baik.
Data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, tingkat yield SBN tenor 10 tahun bertengger di level 6,52%, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun berada di posisi 4,09%. Secara akumulasi sejak awal tahun (year to date/YtD), yield SBN mengalami kenaikan sebesar 55 basis poin (bps).
Baca Juga
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menambahkan bahwa pemerintah terus memantau indikator spread atau selisih imbal hasil antara SBN bertenor 10 tahun dengan US Treasury bertenor sama. Indikator ini dinilai krusial untuk mengukur sejauh mana tingkat kepercayaan investor global terhadap fundamental perekonomian Indonesia.
"Saat ini spread tersebut berada di sekitar 243 basis point (bps)," ungkap Suahasil.
Sebagai perbandingan, spread Indonesia yang berada di level 243 bps tersebut berada pada posisi yang relatif rendah dan jauh lebih baik dibandingkan beberapa negara berkembang alias emerging market lainnya.
Berdasarkan data yang sama, spread obligasi Brasil menembus 964 bps, disusul Kolombia 891 bps, Meksiko 484 bps, Afrika Selatan 437 bps, hingga India 252 bps terhadap US Treasury.
"Itu (spread) yang kita coba tahan terus di sekitar 240 basis point tersebut, sebagai tanda bahwa kita punya tingkat kepercayaan yang tinggi dalam pengelolaan ekonomi kita," ujar dia.

