Trump Ingin Angkatan Laut AS Kawal Tanker di Teluk Persia, Seberapa Efektif?
JAKARTA, Investortrust.id -Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz jika diperlukan untuk memastikan ekspor minyak kembali berjalan di tengah perang melawan Iran. Namun para analis menilai rencana tersebut tidak mudah dilaksanakan karena ratusan kapal saat ini terjebak di kawasan Teluk Persia, sementara jumlah aset militer AS di wilayah tersebut mungkin tidak cukup untuk memberikan pengawalan yang aman bagi seluruh kapal.
Harga minyak AS telah melonjak sekitar 28% menjadi di atas US$86 per barel pekan ini setelah Iran menyerang kapal tanker, yang secara efektif menghentikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Sementara itu, minyak mentah Brent naik sekitar 22% menjadi US$89 per barel. Para analis di Wall Street memperingatkan bahwa harga minyak global bisa melampaui US$100 per barel jika jalur pelayaran tersebut tetap tertutup dalam waktu lama, yang berpotensi mendorong ekonomi global ke dalam resesi.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menjadi satu-satunya akses bagi kapal tanker untuk keluar masuk Teluk Persia. Pada 2025, lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut, atau sekitar sepertiga dari seluruh ekspor minyak dunia melalui jalur laut, menurut firma konsultan energi Kpler.
Baca Juga
Selat Hormuz Terancam, DPR Dukung Bahlil Mitigasi Risiko Energi
Dalam kondisi normal, sekitar 100 kapal tanker dan kapal kargo melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun akibat konflik saat ini, sekitar 400 kapal tanker terjebak di Teluk Persia. Matt Wright, analis senior pengangkutan di Kpler, mengatakan Angkatan Laut AS akan membutuhkan waktu sangat lama untuk mengawal kapal-kapal tersebut bahkan jika dilakukan secara bertahap.
Pernyataan Trump tentang kemungkinan pengawalan kapal tanker serta jaminan asuransi risiko politik sempat menenangkan pasar minyak pada awal pekan. Namun harga kembali melonjak setelah Iran mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker dengan rudal, sementara Angkatan Laut Inggris melaporkan terjadi ledakan besar pada kapal tanker yang berlabuh di perairan Irak.
Para analis seperti dikutip CNBC, Sabtu (7/3/2026) juga menilai bahwa masalah utama bagi pemilik kapal bukan hanya soal asuransi, tetapi keamanan fisik kapal. Para pemilik kapal membutuhkan periode yang cukup lama tanpa serangan sebelum mereka berani kembali melewati Selat Hormuz. Selama kemampuan Iran untuk melanjutkan serangan masih ada, lalu lintas kapal kemungkinan akan tetap terhambat.
Menurut analis Rapidan Energy, pengawalan kapal oleh Angkatan Laut AS hanya akan membantu secara terbatas dan tidak cukup untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Untuk benar-benar memulihkan arus perdagangan minyak, Amerika Serikat perlu secara sistematis melemahkan kemampuan militer Iran, sebuah proses yang memerlukan waktu.
Situasi ini juga mengingatkan pada “perang tanker” pada 1980-an, ketika Angkatan Laut AS mengawal kapal komersial di Selat Hormuz selama perang Iran-Irak. Namun pada saat itu, militer AS tidak sekaligus berperang langsung melawan rezim di Teheran seperti yang terjadi saat ini.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan belum ada kepastian kapan Selat Hormuz akan kembali aman bagi pelayaran komersial. Jika penutupan jalur tersebut berlangsung lama, dampaknya terhadap pasar energi global akan semakin besar.
Para analis memperingatkan bahwa negara-negara Teluk bisa kehabisan kapasitas penyimpanan minyak karena produksi terus berjalan sementara ekspor terhambat. Kondisi ini berpotensi memaksa produsen menghentikan produksi, yang dapat mendorong harga minyak Brent melonjak hingga US$120 per barel. Irak bahkan dilaporkan telah memangkas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari karena kapasitas penyimpanan mulai penuh akibat penutupan Selat Hormuz.
“Selama Selat Hormuz masih tidak beroperasi, waktu terus berjalan dan tekanan terhadap pasar energi global semakin besar,” kata para analis.

