Rupiah Pagi Ini Menguat Saat Imbal Hasil US Treasury Turun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (10/2/2026) seiring perbaikan sentimen pasar global dan penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS, memberi sinyal stabilitas jangka pendek bagi pasar keuangan domestik.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) menjadi fokus pelaku pasar setelah pergerakan mata uang dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga dan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Rupiah menguat 0,08% ke posisi Rp 16.792 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi. Sementara indeks dolar AS atau DXY berada di level 96,89. Penguatan tidak hanya terjadi pada rupiah. Yen Jepang menguat 0,06%, yuan China naik 0,13%, ringgit Malaysia bertambah 0,25%, dolar Singapura menguat 0,02%, dan baht Thailand naik 0,11%.
Baca Juga
BI Catat Devisa Januari 2026 Alami Penurunan, Sebagian untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Di sisi lain, sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia melemah. Euro Uni Eropa turun 0,06% dan poundsterling Britania Raya melemah 0,05%. Peso Filipina turun 0,02% dan won Korea Selatan melemah 0,01%.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,39 basis poin (bps) ke 4,20%. Angka tersebut menurun seiring membaiknya sentimen investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pada pekan ini.
Data tersebut diperkirakan membantu menilai kesehatan ekonomi Amerika Serikat serta memperjelas ekspektasi arah kebijakan The Fed. Pasar menantikan laporan ketenagakerjaan yang tertunda, inflasi atau consumer price index (CPI), serta penjualan ritel.
Pasar saat ini memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Maret 2026, dengan peluang penurunan pertama pada Juni 2026 dan kemungkinan penurunan lanjutan pada September 2026.
Ekspektasi inflasi Amerika Serikat untuk 1 tahun ke depan turun ke level terendah dalam 6 bulan pada Januari 2026. Median ekspektasi inflasi 1 tahun tercatat 3,1%, turun dari 3,4% pada Desember 2025, seiring berkurangnya kekhawatiran konsumen terhadap prospek ketenagakerjaan.
Baca Juga
Sebelumnya, imbal hasil US Treasury sempat naik setelah muncul laporan regulator China mendorong bank domestik membatasi kepemilikan obligasi pemerintah AS karena kekhawatiran risiko konsentrasi dan volatilitas pasar.
Pergerakan tersebut menunjukkan dinamika global masih menjadi penentu utama arah rupiah. Fluktuasi kebijakan moneter AS dan strategi investasi negara besar terus memengaruhi arus modal dan stabilitas nilai tukar di pasar negara berkembang.
