Moody’s Ratings Revisi Prospek Indonesia Jadi Negatif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Moody’s Rating mengubah prospek peringkat pemerintah Indonesia, dari stable ke negative. Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan premi risiko investasi di peringkat Baa2.
Dalam laporannya, Moody’s mengubah prospek Indonesia karena arah kebijakan fiskal yang berubah. Mengingat, basis penerimaan Indonesia yang masih lemah.
Meskipun berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi perpajakan dan kepabeanan, rekam jejak Indonesia dalam memperluas basis penerimaan masih menimbulkan risiko pelebaran defisit fiskal serta mengindikasikan munculnya kelemahan dalam perencanaan dan komunikasi kebijakan, yang berimplikasi pada kredibilitas kebijakan.
Tekanan ini diperparah oleh penekanan otoritas pada perluasan program sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan rumah terjangkau. Hingga saat ini, program-program tersebut dibiayai melalui pemangkasan dan realokasi belanja lintas kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur.
Selain itu, Moody’s melihat pembentukan sovereign wealth fund (SWF) Danantara, juga menimbulkan ketidakpastian terkait pembiayaan, tata kelola, dan prioritas investasinya. Danantara meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan serta potensi kewajiban kontinjensi bagi pemerintah.
Kewenangan Danantara atas kebijakan dividen BUMN dapat menekan kesehatan keuangan BUMN, mengingat pembayaran dividen merupakan salah satu sumber pendanaan utama. Bank-bank BUMN sendiri telah meningkatkan pembayaran dividen pada 2025.
Terlepas dari risiko-risiko tersebut, asumsi dasar kami adalah bahwa penguatan kelembagaan lebih lanjut akan memberikan kejelasan yang lebih besar terkait tata kelola dan operasional Danantara.
Kekhawatiran terbaru terkait kualitas regulasi sektor keuangan juga telah berkontribusi terhadap volatilitas pasar keuangan. Secara keseluruhan, berbagai ketidakpastian ini telah menantang persepsi terhadap stabilitas dan kredibilitas kebijakan, dan apabila tidak ditangani secara memadai, dapat melemahkan kepercayaan investor serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan, dengan dampak negatif terhadap stabilitas makroekonomi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid.
Baca Juga
Perubahan Outlook Moody’s Picu Tekanan Sentimen, IHSG Rentan Terkoreksi
“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,11%” kata Perry, di laman resmi BI.
Inflasi tetap terjaga pada 2,92% secara tahunan. Angka ini berada dalam kisaran sasaran dan stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat BI. Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah.
“Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Kementerian Keuangan pun merespons laporan Moody’s ini. Kantor Bendahara Negara menyebut sebelum laporan tersebut keluar, Moody’s telah menggelar serangkaian kunjungan pada 27-29 Januari 2026. Pertemuan digelar dengan berbagai lintas kementerian, yaitu Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
"Moody’s memahami pemerintah Indonesia sedang berupaya melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ini penting sebagai prasyarat menjadi negara maju," demikian kantor Purbaya dalam pernyataan resminya, Kamis (5/2/2026).
Upaya mencapai pertumbuhan tinggi tersebut kini menemukan momentum dan pemerintah fokus melakukan perubahan-perubahan yang fundamental dalam pengelolaan perekonomian. Pengelolaan kebijakan fiskal sebagai instrumen kebijakan pembangunan dan pengelolaan ekonomi untuk akselerasi pertumbuhan, kini mendapatkan tambahan energi dengan hadirnya Danantara sebagai engine of growth baru.
Danantara berperan dalam pengelolaan aset dan investasi yang penting dalam peningkatan produktivitas dan akselerasi pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks investasi, APBN akan lebih berperan sebagai katalis yang menciptakan ekosistem yang sehat.
APBN dioptimalkan peranannya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat melalui peningkatan belanja yang menyasar langsung ke rakyat, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, ketahanan pangan dan Program Perumahan Rakyat, serta layanan publik.

