Rupiah Melemah, Antisipasi Geopolitik Washington Kerek Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup di pasar perdagangan dalam posisi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat rupiah berada di posisi Rp 16.826 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa pembicaraan antara AS dengan Iran pada hari Jumat esok (6/2/2026) terancam gagal. Namun, pada hari itu, para pejabat dari kedua pihak mengatakan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung pada meskipun topik yang akan dibahas belum disepakati.
Kedua pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang besar mengenai apa yang seharusnya dibahas dalam pembicaraan tersebut. Iran terbuka untuk membahas program nuklirnya dengan negara-negara Barat, termasuk pengayaan uranium. Sementara AS juga ingin memasukkan tema rudal balistik Iran, dukungannya terhadap kelompok proksi bersenjata di sekitar Timur Tengah, dan perlakuannya terhadap rakyatnya sendiri.
Terlepas dari pembicaraan yang akan datang, ada kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump masih akan melaksanakan ancamannya untuk menyerang Iran, yang berpotensi menimbulkan konfrontasi yang lebih luas di wilayah kaya minyak tersebut. Selain kemungkinan gangguan produksi Iran jika terjadi konflik, ada kekhawatiran bahwa ekspor dari produsen negara Teluk lainnya dapat terpengaruh.
Baca Juga
Dilanda Net Sell Rp 469,74 Miliar, Investor Asing Obral Saham Ini
Di sisi lain, Washington juga menggelar percakapan positif dengan Beijing, China. Presiden AS, Doland Trump dan pemimpin tertinggi China, Xi Jinping tampaknya tengah berusaha menjaga situasi agar tetap tenang.
Trump mengatakan dia menggelar percakapan melalui telepon dengan Xi. Trump mengungkapkan percapakan berlangsung baik dan dia akan menggelar perjalanan ke China pada April untuk membahas perdagangan, militer, bicara seputar status Taiwan, tentang perang Rusia/Ukraina, Iran, dan pembelian minyak dan gas dari China.
Pasar juga masih mengantisipasi arah kepemimpinan calon ketua the Fed, Kevin Warsh. Pasar menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga the Fed menjadi 46% pada pertemuan Juni 2026.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11% secara tahunan. Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% secara tahunan pada 2024.
Sedangkan, dari sisi produksi, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan infokom. Dari sisi pengeluaran, penyumbang utama ekonomi tahun lalu adalah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Sepanjang tahun 2025, wilayah Jawa dan Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

