Rupiah Melemah ke Rp 17.286 Per Dolar AS Tertekan Geopolitik Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/3/2026) pagi di tengah tekanan eksternal dari ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter global, mencerminkan meningkatnya volatilitas pasar keuangan yang berdampak pada mata uang kawasan Asia. Pergerakan ini menunjukkan sensitivitas rupiah terhadap dinamika global, terutama terkait konflik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan pagi, rupiah terdepresiasi atau melemah 0,61% ke level Rp 17.286 per dolar AS pada pukul 09.11 WIB. Pelemahan ini sejalan dengan tren di sejumlah mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Baca Juga
Rupee India tercatat melemah 0,32%, ringgit Malaysia turun 0,09%, dan peso Filipina melemah 0,45%. Sementara itu, dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing turun 0,02% dan 0,32%. Di sisi lain, beberapa mata uang justru menguat tipis. Dolar Hong Kong naik 0,02%, yen Jepang menguat 0,01%, dan yuan China naik 0,04%.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan volatilitas pasar valuta asing dipengaruhi perkembangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. "Langkah tersebut dilakukan untuk membuka ruang negosiasi lanjutan guna mengakhiri konflik yang telah menekan perekonomian global," kata dia.
Namun, keputusan tersebut dinilai sepihak dan belum mendapat kepastian dukungan dari Iran maupun sekutunya, termasuk Israel. Trump juga menyatakan Angkatan Laut AS akan tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, yang oleh pihak Iran dianggap sebagai tindakan agresif.
Kantor Berita Tasnim melaporkan Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata tersebut dan menegaskan akan melawan blokade AS, sehingga meningkatkan ketidakpastian pasar.
Dampak ke pasar energi
Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga berdampak pada jalur distribusi energi global. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan sempat terhambat, dengan hanya tiga kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir, padahal jalur ini biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Di kawasan lain, militer Israel melaporkan adanya serangan roket oleh Hizbullah di Lebanon selatan, yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata. Situasi ini semakin memperburuk ketidakpastian geopolitik.
Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter Amerika Serikat, calon Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan pentingnya independensi bank sentral dari tekanan politik, meskipun mengisyaratkan kemungkinan perubahan kebijakan yang lebih luas jika ia dikonfirmasi.
Baca Juga
Pernyataan tersebut turut memengaruhi sentimen pasar, mengingat arah kebijakan The Fed menjadi faktor utama dalam pergerakan dolar AS dan mata uang global.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 4,75%. Bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility di 3,75% dan lending facility di 5,5%.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat efektivitas operasi moneter di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Langkah tersebut mencerminkan upaya otoritas moneter dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.

