Indeks Dolar AS Melemah, Rupiah Masih Tertekan di Rp 16.618 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY bergerak melemah di level 98,9 atau -0,04%. Meski demikian, rupiah masih mengalami tekanan dari dolar AS yang melemah di sesi pembukaan Senin pagi (27/10/2025) sebesar -0,10% atau turun -16 poin menjadi Rp 16.618 per US$.
Tekanan terhadap dolar AS juga dirasakan yen Jepang yang melemah -0,09%.
Meski begitu, hampir seluruh mata uang di kawasa Asia Tenggara mengalami penguatan. Dolar Singapura menguat 0,10%. Setali tiga uang, baht Thailand juga menguat sebesar 0,07%.
Peso Filipina, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia juga menguat. Peso Filipina menguat 0,02%, ringgit Malaysia menguat 0,15%, dan won Korea Selatan menguat 0,3%.
Baca Juga
BI Rate Tetap, Rupiah Menguat Tipis di Tengah Tekanan Dolar AS
Dolar AS juga melemah terhadap dua mata uang utama yaitu euro Uni Eropa dan poundsterling Inggris. Euro menguat sebesar 0,02% dan poundsterling menguat 0,09%.
Rupiah diproyeksikan akan diperdagangan dalam kisaran Rp 16.530 hingga Rp 16.615 per US$. Ini terjadi karena beberapa situasi politik AS yang masih mempengaruhi pergerakan dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan AS dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan terhadap sejumlah isu. Kondisi ini bakal membuka jalan bagi pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
“Setelah dua hari perundingan di Malaysia, para pejabat mengumumkan bahwa kedua pihak telah sepakat mengenai sejumlah isu termasuk pengendalian ekspor, fentanyl, dan tarif pengiriman,” kata Andry.
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan bahwa China akan akan membeli kedelai dan menunda penerapan pengendalian ekspor rare earth selama setahun.
Baca Juga
Makin Kuat, Kurs Rupiah Tutup Pekan Nangkring di Bawah Rp 16.300 per Dolar AS
Pekan ini, kata Andry, akan menjadi pekan terpenting bagi the Fed. Federal Open Market Committee (FOMC) the Fed akan menggelar pertemuan untuk memutuskan kebijakan suku bunga tanpa data ekonomi utama akibat pemerintah AS yang masih tutup.
Keputusan suku bunga juga dinanti Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Jepang, dan Bank Sentral Kanada. Ketidakpastian terkait data ekonomi AS akan diimbangi oleh laporan keuangan penting dari perusahaan besar di bidang teknologi.
Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75% pada Oktober 2025. Keputusan ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan BI akan memangkas kembali BI Rate sebesar 25 basis poin (bps).

