Deputi Gubernur Senior BI Waspadai 5 Masalah di Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mewaspadai lima karakteristik ekonomi global yang berpotensi memengaruhi kondisi perekonomian domestik. Masalah pertama adalah tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) yang tidak kunjung reda.
“Tadi pagi baru saya lihat bahwa Amerika mengancam akan menaikkan tarif buat negara-negara di Eropa yang against atas niat Amerika untuk menguasai Greenland,” kata Destry, di acara Starting Year Forum 2026 yang digelar Infobank, Kamis (22/1/2026).
Destry mengatakan meski masih sebatas pernyataan, implementasi tarif impor akan berdampak terhadap perekonomian suatu negara, karena meningkatkan biaya produksi di suatu negara. Pengenaan tarif juga pada ujungnya akan memengaruhi harga.
“Kemudian juga tentunya ekspor juga akan terganggu. Jadi, at the end, permasalahan geopolitik bisa masuk ke permasalahan ekonomi,” kata dia. bg
Persoalan kedua yang menjadi kekhawatiran BI yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi dan fragmentasi. Destry melihat AS diperkirakan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah pada 2026.
“Termasuk beberapa negara maju lainnya seperti Jepang, Eropa, at least dia stagnan. Ini tentunya berlawanan dengan beberapa negara emerging market yang ekonominya relatif stabil, tinggi, walaupun mungkin ada penguranan, penurunan sedikit,” ujar dia. Melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju tentunya amat terkait dengan daya serap negara tersebut terhadap produk dari negara-negara berkembang selaku pengekspor
Destry membandingkan pertumbuhan ekonomi India dan Indonesia yang relatif stabil di angka 5%. Pada 2025 ini, dia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kedua negara ini masih akan berada di kisaran 5%. “Sementara, kalau melihat negara maju itu pertumbuhannya 3%” kata dia.
Hal berikutnya yang menjadi concern bagi sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia adalah tingginya public debt pada negara-negara maju. Utang pemerintah yang tinggi tercipta karena negara-negara maju tersebut harus membiayai kegiatannya dengan defisit anggaran yang sangat besar.
“Dan itu masih terus terjadi sampai saat ini. Hingga dia (negara maju) menyebabkan mereka issue bond sehingga menyebabkan suku bunga akhirnya meningkat,” kata dia.
Baca Juga
Membuka Tahun dengan Melemah, Rupiah dalam Ancaman Volatilitas Ekonomi Global
Logikanya, ketika sejumlah negara maju jor-joran menerbitkan obligasi, maka akan terjadi kenaikan tingkat suku bunga yang bisa mendorong mengalirnya arus modal keluar dari negara berkembang menuju negara maju. Imbal hasil surat utang negara maju yang lebih tinggi dan dianggap lebih aman mendorong investor global memindahkan dananya. Bisa ditebak, pasar keuangan negara berkembang mengalami tekanan, baik di pasar obligasi maupun pasar saham.
Nilai tukar mata uang negara berkembang juga berpotensi melemah, karena capital outflow memperkecil pasokan devisa dan meningkatkan permintaan dolar AS atau mata uang negara maju. Pelemahan kurs ini meningkatkan biaya impor, khususnya energi dan pangan, serta memicu tekanan inflasi domestik.
Pengaruh keempat yaitu pasar finansial. Akibat tak menentunya sektor ini, selama dua tahun terakhir ini terjadi perlambatan inflow ke Indonesia.
“Padahal kalau kita lihat spread dari instrumen kita, relatif menarik. Itu ternyata karena di sana [negara berkembang] juga sedang struggling, sehingga apa yang terjadi dalam dunia yang tak menentu ini banyak aset masuk ke safe haven,” jelas dia.
Masalah kelima, yaitu mulai banyaknya kripto dan stable coin. Destry khawatir perputaran uang di kripto dan stable coin dapat menganggu keseimbangan di sektor riil.
“Kalau mereka (kripto dan stable coin) sampai bubble itu pasti pengaruhnya adalah ke sektor riil, sektor keuangan yang bisa dilihat mata,” kata dia.

