Perbanas Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,06% di Tahun 2026
JAKARTA, investortrust.id - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memperkirakan perekonomian Indonesia pada tahun 2026 tumbuh sebesar 5,06%, ditopang oleh stabilitas permintaan domestik dan perbaikan sektor riil yang lebih merata.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi dalam acara Press Conference CEO Forum – Economic Outlook 2026: Navigating Slower Demand For Credits In A Changing Economy di Menara BRILiaN, Jakarta, Rabu (10/12/2025).
"Harapannya memang kedepan 2026 ini harapannya sih pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih baik dibandingkan 2025. Dan tentunya kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik salah satu parameternya adalah juga kredit perbankan tumbuh," ujar Hery.
Hery menjelaskan, inflasi diproyeksikan berada pada kisaran 2,62% - 2,77%. Menurutnya, hal ini mencerminkan terkendalinya tekanan harga seiring koordinasi kebijakan fiskal-moneter yang tetap konsisten.
Kemudian, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp 16.410 - 16.911 per US$ di akhir tahun, dengan volatilitas yang masih dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global.
Baca Juga
Anindya Bakrie Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Kuat Tahun Depan
Lebih lanjut, dalam konteks intermediasi perbankan, Perbanas memperkirakan bahwa industri perbankan memasuki fase pertumbuhan kredit single digit, dengan pertumbuhan berada pada kisaran 8,3 ± 1% pada akhir periode dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga diperkirakan bergerak sejalan di kisaran 7,5±1%, menandakan bahwa kompetisi pendanaan akan tetap ketat namun stabil.
"Tapi di sini dari kajian kita kita melihat bahwa kredit perbankan mungkin tumbuh lebih baik dibandingkan 2025. Tapi kelihatannya antara angkanya berkisar antara 9 sampai 11% gitu ya. Dan beberapa analis menyebutkan bahwa masih tetap tumbuh single digit, tapi single digit yang di atas," jelas Hery yang juga Direktur Utama BRI.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas Aviliani mengatakan, secara keseluruhan, outlook Perbanas menegaskan bahwa tahun 2026 akan diwarnai oleh pertumbuhan yang lebih selektif dan terkendali, dengan fokus pada penguatan kualitas intermediasi dan mitigasi risiko di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
"Pada tahun 2026, pertumbuhan kredit diperkirakan bergerak dalam pola normalisasi," terang Aviliani.
Secara rinci, kredit sektor Pertambangan dan Penggalian diproyeksikan tumbuh pada kisaran 21,3% year on year (yoy), tetap kuat namun melandai signifikan dari level sangat tinggi pada 2023-2024 seiring stabilisasi harga komoditas global. Lalu, pertumbuhan kredit pada Jasa Keuangan & Asuransi diproyeksikan kembali menguat pada 2026, mencapai kisaran 7,8%, setelah sempat melambat pada 2025 sebesar 4.6% yoy. Peningkatan di tahun 2026 diprediksi karena perbaikan aktivitas intermediasi, stabilitas pasar keuangan, serta meningkatnya permintaan pembiayaan untuk investasi dan produk asuransi.
Kredit untuk Transportasi dan Pergudangan masih diperkirakan ekspansif pada kisaran 18,5% yoy, mencerminkan momentum logistik yang solid, meskipun lebih rendah dari puncaknya di tahun 2024 yang mencapai 24%.
Sementara itu, pertumbuhan kredit Sektor Pengadaan Listrik, Gas, dan Air diperkirakan naik sekitar 14,6% yoy, melandai dari 22,3% pada 2025 yang sebelumnya terdorong oleh beberapa proyek energi skala besar. Sektor berbasis teknologi menunjukkan prospekmeningkat pada 2026.
Informasi dan Komunikasi diproyeksikan tumbuh 14.1%, meningkat dari 8,6% pada 2025, didorong oleh akselerasi digitalisasi dan pengembangan infrastruktur data.
Di sektor primer, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan diperkirakan tumbuh moderat di 5,5% yoy, sedikit lebih tinggi dari 2025 yang sebesar 4,8%, yoy seiring meningkatnya pembiayaan agribisnis dan pendalaman rantai pasok pangan dari kebijakan pemerintah.
Baca Juga
KB Bank Gelar Economic Outlook 2026, Prospek Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tetap Kuat
Sebaliknya, sektor-sektor padat karya diperkirakan masih bergerak terbatas pada 2026. Perdagangan Besar dan Eceran hanya diperkirakan tumbuh 2,5% yoy, melanjutkan pelemahan dari 2025 yang sebesar 4%, yoy.
Adapun untuk Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum diproyeksikan meningkat ke 4,2% yoy, namun masih berada di bawah tren historis. Industri Pengolahan diprediksi tumbuh 7,2% yoy, sedikit melambat dari 8,3% yoy pada 2025, mencerminkan sikap hati-hati pelaku industri dalam ekspansi pembiayaan.
Aviliani menambahkan, tantangan terbesar masih dihadapi oleh sektor Konstruksi, yang kembali berpotensi mengalami pertumbuhan mendekati stagnan pada 0,2% yoy, setelah kontraksi pada 2025 sebesar -2,1%, yoy. Tekanan biaya, penundaan proyek, dan normalisasi pembangunan infrastruktur masih menahan percepatan kredit di sektor ini.
Secara keseluruhan, Outlook 2026 menegaskan bahwa pertumbuhan kredit akan tetap ditopang oleh sektor-sektor padat modal seperti pertambangan, logistik, energi, dan teknologi. Sementara itu, pemulihan di sektor padat karya cenderung lebih lambat.
"Arah ini menunjukkan bahwa strategi mendorong penyaluran kredit ke sektor dengan daya serap tenaga kerja tinggi menjadi kunci untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif pada 2026," pungkasnya.

