Ekonom IEI: 'Purbaya Effect' Sudah Mulai Dirasakan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip mengatakan langkah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun ke himpunan bank milik negara (Himbara) sudah mulai terasa dampaknya. Meski masih terbatas, dampak dari suntikan dana itu mulai mengerek volume kredit.
“Kreditnya sudah mulai tumbuh. Tumbuh dari 6,96% (secara tahunan) pada Agustus, itu sekarang tumbuh 7,2% (secara tahunan pada September)” kata Sunarsip dalam diskusi Katadata Policy Dialogue, di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Meski demikian, Sunarsip melihat sumber pertumbuhan kredit tersebut masih dipacu oleh kredit perbankan kepada debitor BUMN. Dari sisi angka, kredit ke BUMN naik dari 1,96% secara tahunan pada Agustus 2025 tumbuh ke 10,04% secara tahunan pada September 2025.
“Bayangin dari 1,96% tumbuh menjadi 10,04%,” ujar dia.
Sunarsip mengatakan penempatan dana pemerintah ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025. Tanpa adanya penempatan dana tersebut, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 tidak mungkin menembus 5,04%.
Baca Juga
“Mungkin masih di bawah 5%. Itu yang saya bilang, sudah bekerja Efek Purbaya, kebijakan Purbaya itu,” kata dia.
Sunarsip berharap kredit yang terserap tidak hanya berada di level korporat BUMN, melainkan juga swasta. Sebab, dia menyebut Purbaya begitu ingin mentransmisikan kebijakan fiskal untuk katalis pertumbuhan sektor swasta.
“Karena bagaimanapun kita butuh (sektor) private. Karena kredit terbesar kan dari private,” ujar dia.
Data Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) memaparkan bahwa pangsa kredit sektor swasta mencapai 42,04% dari total kredit. Pertumbuhan kredit sektor swasta juga tumbuh dari 11,07% secara tahunan pada Agustus 2025 menjadi 11,12% secara tahunan pada September 2025.
Untuk itu, Sunarsip menyarankan agar pemerintah menggerakkan sektor swasta dengan menyelesaikan berbagai persoalan yang menghalangi bisnisnya. “Maka, problem-problem yang ada di sisi supply, itu yang saya katakan tadi, tanpa menafikan pentingnya stimulus di sisi demand,” ucap dia.

