The Fed 'Dovish', tapi Rupiah Belum 'Move On' dari Tekanan Dolar
Rupiah Melemah Tipis pada Akhir Perdagangan Kamis Sore
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada akhir perdagangan Kamis (16/10/2025). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah melemah tipis 3 poin atau 0,01% menjadi Rp 16.580 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 16.577 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY, yang masih bertahan di level tinggi akibat sentimen kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data Bloomberg, indeks DXY tercatat di posisi 98,56 atau turun 0,24% per pukul 17.40 WIB.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah yang cenderung melemah disebabkan meningkatnya optimisme pasar terhadap arah kebijakan moneter AS yang lebih pasti menjelang akhir tahun.
Baca Juga
“Setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan nada yang lebih dovish dalam pidatonya minggu ini, pelaku pasar semakin yakin akan adanya penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir bulan ini dan pada Desember 2025,” ujar Ibrahim, Kamis (16/10/2025).
Nada dovish Powell menjadi katalis utama yang mendorong investor kembali ke aset berisiko, meski belum cukup kuat menopang rupiah. Selain itu, laporan Beige Book The Fed menunjukkan aktivitas ekonomi AS yang relatif stagnan.
“Para pelaku bisnis di AS melaporkan permintaan yang melambat dan tekanan biaya yang masih ada. Kondisi ini menandakan tanda-tanda awal perlambatan pasar tenaga kerja,” jelas Ibrahim.
Kondisi tersebut menambah keyakinan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga secara bertahap demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Namun, bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, kebijakan ini masih menimbulkan volatilitas jangka pendek terhadap nilai tukar.
Utang Luar Negeri Melambat
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2025 mencapai US$ 431,9 miliar, atau tumbuh 2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini melambat dibandingkan Juli 2025 yang mencatatkan kenaikan 4,2%.
Baca Juga
Perlambatan ini terjadi akibat menurunnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pada ULN sektor swasta. “Perlambatan pertumbuhan ULN menandakan kehati-hatian dalam pembiayaan eksternal, namun juga mencerminkan masih lemahnya kebutuhan ekspansi di sektor swasta,” ujar Ibrahim.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan Jumat (17/10/2025). “Rupiah berpotensi ditutup melemah dengan kisaran perdagangan di level Rp 16.580 hingga Rp 16.620 per dolar AS," ujarnya.

